Tampilkan postingan dengan label Solo Spirit Of Java. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Solo Spirit Of Java. Tampilkan semua postingan

01 April 2009

Sekilas Kota Solo

Kota Solo atau Sala mempunyai nama resmi Surakarta, adalah nama sebuah kota di Propinsi Jawa Tengah. Kota Solo merupakan kota besar kesepuluh setelah Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Semarang, Makassar, Denpasar, Palembang, dan Yogyakarta.

Kota Surakarta memiliki semboyan BERSERI yang merupakan akronim dari Bersih, Sehat, Rapi, dan Indah. Selain itu Solo juga memiliki slogan pariwisata Solo the Spirit of Java yang diharapkan bisa membangun pandangan kota Solo sebagai pusat kebudayaan Jawa.

Warga eks Karesidenan Surakarta / SUBOSUKAWONOSRATEN (Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen dan Klaten) masih sering menyebut dirinya orang 'Solo' (bentuk alternatif dari Surakarta) meskipun tidak berasal dari kota Surakarta sendiri. Hal ini dilakukan sebagai identifikasi untuk membedakan diri mereka dari orang 'Semarang' dan 'Yogya'.

Meskipun bukan ibukota provinsi, namun Surakarta berstatus sebagai kota besar dan menjadi salah satu kota terpenting di Indonesia dikarenakan masyarakatnya mempunyai karakter yang kuat, yaitu lembut dalam bahasa, tingkah laku, serta tutur kata di samping masih mempertahankan kehidupan tradisinya
Penduduk Surakarta juga mengadopsi kehidupan modern, seperti banyaknya hotel berbintang, kafe, pub, bar, dan diskotik.

SEJARAH
Kota Solo (resminya Surakarta) dibangun pada tahun 1745, dimulai dengan pembangunan Keraton Kasunanan sebagai ganti ibu kota Kerajaan Mataram di Kartasura yang hancur akibat pemberontakan orang-orang Cina melawan kekuasaan Susuhunan Paku Buwono II yang bertakhta di Kartasura (dikenal dengan Geger Pacinan) pada tahun 1742.

Begitu hebatnya pemberontakan ini, sehingga Keraton Kartasura hancur dan PB II menyingkir ke Ponorogo, Jawa Timur. Berkat bantuan VOC, pemberontakan dapat ditumpas dan Kartasura direbut kembali, tapi bangunan kraton sudah hancur.
Kemudian dibangunlah keraton baru di Solo, 20 km ke arah selatan-timur dari Kartasura, pada 1745. Disusul kemudian lahirnya Perjanjian Giyanti (1755), yang membagi Kerajaan Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dengan rajanya Paku Buwono II, dan Kasultanan Jogjakarta dengan rajanya Hamengku Buwono (HB) I. Keraton dan kota Jogjakarta mulai dibangun pada 1755, dengan pola tata kota yang sama dengan kota Solo yang lebih dulu dibangun. Pada tahun 1757, dua tahun setelah Perundingan Gijanti, Kerajaan Surakarta terbagi lagi setelah Raden Mas Said memberontak dan akhirnya atas dukungan Susuhunan lahirlah Perjanjian Salatiga yang isinya Pangeran Raden Mas Said diperkenankan mendirikan kerajaan sendiri, dengan nama Pura Mangkunegaran.
Begitu mendengar pengumuman tentang kemerdekaan RI, raja-raja Mangkunegara dan Susuhunan mengirim kabar dukungan ke Presiden RI Soekarno dan menyatakan bahwa wilayah Mangkunegara dan Susuhunan adalah bagian dari RI.

Sebagai balasan atas pengakuan ini, Presiden RI Soekarno menetapkan pembentukan propinsi Daerah Istimewa Surakarta (DIS).

Oktober 1945, terbentuk gerakan Swapraja/anti monarki/anti Feodal di Surakarta, yang salah satu pimpinannya adalah Tan Malaka, tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI). Tujuan gerakan ini adalah pembubaran DIS, dan penghapusan Mangkunegara dan Susuhunan. Motif lain adalah perampasan tanah-tanah pertanian yang dikuasai Mangkunegara dan Susuhunan untuk dibagi-bagi dalam rangka kegiatan Landreform oleh gerakan komunis.

17 Oktober 1945, Wisir (penasihat raja) Susuhunan, KRMH Sosrodiningrat diculik dan dibunuh oleh gerakan Swapraja. Hal ini diikuti oleh pencopotan bupati-bupati di wilayah Surakarta yang merupakan kerabat Mangkunegara dan Susuhunan. Bulan Maret 1946, Wisir yang baru KRMT Yudonagoro juga diculik dan dibunuh gerakan Swapraja. April 1946, 9 pejabat Kepatihan juga mengalami hal yang sama.

Karena banyaknya kerusuhan, penculikan dan pembunuhan, maka tanggal 16 Juni 1946, pemerintah RI membubarkan DIS dan menghilangkan kekuasaan politik Mangkunegara dan Susuhunan. Sejak saat itu Mangkunegara dan Susuhunan berubah menjadi suatu keluarga/trah biasa dan keraton/istana berubah fungsi sebagai tempat pengembangan seni dan budaya Jawa.

Tanggal 16 Juni diperingati setiap tahun sebagai hari kelahiran kabupaten Surakarta dan kota Surakarta.
Secara de facto tanggal 16 Juni 1946 terbentuk Pemerintah Daerah Kota Surakarta yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri, sekaligus menghapus kekuasaan Kerajaan Kasunanan dan Mangkunegaran.

Secara yuridis Kota Surakarta terbentuk berdasarkan penetapan Pemerintah tahun 1946 Nomor 16/SD, yang diumumkan pada tanggal 15 Juli. Dengan berbagai pertimbangan faktor-faktor historis sebelumnya, tanggal 16 Juni 1946 ditetapkan sebagai hari jadi Pemerintah Kota Surakarta

Dari tahun 1945 sampai 1948, Belanda berhasil menguasai kembali sebagian besar wilayah Jawa, kecuali Yogyakarta, Surakarta dan daerah-daerah sekitarnya.

Pada Desember 1948, Belanda menyerbu wilayah RI yang tersisa, mendudukinya dan menyatakan RI sudah hancur dan tidak ada lagi. Jendral Soedirman menolak menyerah dan mulai bergerilya di hutan-hutan dan desa-desa di sekitar kota Jogyakarta dan Surakarta.

Untuk membantah klaim Belanda, maka Jendral Soedirman merencanakan "Serangan Oemoem" yaitu serangan besar-besaran yang bertujuan menduduki kota Jogyakarta dan Surakarta selama beberapa jam. Serangan Oemoem di Jogyakarta dipimpin oleh Lt. Kol. Soeharto. Serangan Oemoem di Surakarta tanggal 7 Agustus 1949 dipimpin oleh Letnan Kolonel Slamet Riyadi.

Untuk memperingati Serangan Oemoem ini maka jalan utama di kota Surakarta dinamakan "Jalan Brigadir Jendral Slamet Riyadi".


SOLO DALAM DATA
Provinsi : Jawa Tengah
Luas wilayah : 44,03 km²
Penduduk : 552.542 (2005) - Kepadatan 12.998,97/km²
Suku bangsa : Jawa, Tionghoa, Arab
Bahasa : Jawa, Indonesia
Agama : Kejawen, Islam, Katholik Roma, Kristen Protestan, Hindu, Buddha
Kecamatan : 5
Kelurahan : 51
Walikota : Ir. Joko Widodo
Wakil Walikota : F.X. Hadi Rudyatmo

Batas Wilayah
Utara : Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali
Timur : Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo
Selatan : Kabupaten Sukoharjo
Barat : Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Karanganyar

.: BANDARA / AIRPORT
Surakarta memiliki bandar udara internasional Adisumarmo (dulu bernama "Panasan", sebenarnya terletak di wilayah perbatasan Kabupaten Karanganyar dan Boyolali tapi letak bandara terletak di kabupaten boyolali) yang terhubung ke Jakarta, Singapura dan Malaysia. Waktu tempuh perjalanan udara dengan Jakarta berlangsung kurang lebih 50 menit. Beberapa operator penerbangan yang melayani rute dari/ke kota Solo antara lain Garuda Indonesia, Lion Air, Sriwijaya Air, Indonesia Air Asia, Mandala Air, Air Asia, Silk Air, dll. Bandar udara ini juga menjadi pusat pemberangkatan dan penerimaan haji dari Asrama Haji Donohudan Boyolali Indonesia.

.: STASIUN
Stasiun kereta api utama bernama Stasiun Solo Balapan yang merupakan stasiun untuk pemberangkatan kereta api kelas Bisnis dan Eksekutif dan terletak berdekatan dengan terminal bus Tirtonadi, suatu hal yang jarang dijumpai di Indonesia. Hubungan perjalanan dari setasiun ini cukup baik, mencakup semua kota besar di Jawa secara langsung dan hampir dalam semua kelas. Di Kota Surakarta juga terdapat tiga setasiun kereta api lain yang lebih kecil, yang salah satunya (Stasiun Solo Kota) dihubungkan dengan rel yang berada tepat sejajar di tepi jalan, satu-satunya yang masih difungsikan di Indonesia. Dua stasiun lainnya adalah Stasiun Purwosari dan Stasiun Jebres, kedua stasiun ini melayani penumpang kereta api kelas ekonomi.

.: TERMINAL BUS
Terminal bus besar kota ini bernama Tirtonadi yang beroperasi 24 jam. Terminal ini merupakan terminal utama di Kota Solo yang menghubungkan angkutan bus dari Jurusan Timur, seperti : Surabaya, Banyuwangi, Denpasar hinggaNusa Tenggara Barat/Lombok dan Jurusan Barat, seperti : Jakarta, Bandung, dan Kota-kota di Pulau Sumatra.

.: ANGKUTAN KOTA
Angkutan umum dalam kota mencakup bus kota, angkot, taksi, becak, dan andong.
Read More......

Solo Monumental

Banyak event dan organisasi memulai perjalanan mereka di kota Solo. Sebut saya diantaranya Syarikat Dagang Islam, Pekan Olahraga Nasional (PON), Perwatuan Wartawan Indonesia (PWI), Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dll. Belum lagi jika kita sebutkan juga keberadaan Museum Radyapustaka sebagai museum tertua di Indonesia.
Banyak pula seni budaya yang menemukan habitatnya dan berkembang pesat di Solo yang turut mewarnai kehidupan masyarakatnya. Sebut saja seni wayang (kulit maupun orang), ketoprak, keroncong, tari-tarian dan gamelan kerawitan, keroncong sampai seni membuat batik, keris dan gamelan. Walaupun

banyak diantara seni tersebut juga dihasilkan dari daerah lain, yang dihasilkan kota Solo hampir selalu dianggap sebagai yang paling halus, mengandung nilai-nilai dan berfilosofi tinggi yang tentu saja menjadikannya yang terbaik.
Dengan mengemukakan hal-hal yang telah diuraikan di atas, kota Solo telah menulis suatu riwayat di berbagai bidang dan hal ini akan terpatri sepanjang masa dalam sejarah bangsa Indonesia. Menggembirakan, Kota Solo dengan berbagai riwayatnya telah menjadi kota kenangan dan harus selalu dikenang.
Berikut ini sedikit uraian tentang hal-hal tersebut:
1. PON (Pekan Olahraga Nasional)
Pada bulan Januari 1946, bertempat di Hadiprojo di kota Solo diadakan kongres olahraga yang pertama di alam kemerdekaan. Berhubung dengan suasana pada masa itu, kongres ini hanya dihadiri oleh tokoh-tokoh olahraga dari pulau Jawa saja. Kongres tersebut berhasil membentuk suatu badan olahraga dengan nama Persatuan Olahraga Republik Indonesia (PORI) dengan pengakuan pemerintah, sebagai satu-satunya badan resmi persatuan olahraga yang mengurus semua kegiatan olahraga di Indonesia.
Dalam kongres ini pada mulanya juga dimajukan dua nama lain, yang akan diberikan kepada badan olahraga yang bakal dibentuk tersebut, yaitu ISI dan GELORA, tetapi keduanya tidak banyak dipilih oleh peserta kongres.
Sesuai dengan fungsinya, PORI juga berperan sebagai koordinator semua cabang olahraga dan khusus mengurus kegiatan-kegiatan olahraga dalam negeri. Dalam hubungan tugas keluar, berkaitan dengan Olimpiade dan International Olympic Committee (IOC), Presiden R.I. telah melantik Komite Olympiade Republik Indonesia (KORI) yang diketuai oleh Sultan Hamengku Buwono IX dan berkedudukan di Yogyakarta.
Bagi Indonesia telah tiba saatnya untuk menempuh langkah-langkah yang diperlukan, agar dapat ikut serta di Olimpiade - London pada tahun 1948. Olimpiade yang ke 14 ini adalah yang pertama setelah PD II usai dan sejak tahun 1940 terpaksa ditiadakan selama delapan tahun. Usaha Indonesia untuk mendapat tiket ke London banyak menemui kesulitan. PORI sebagai badang olahraga resmi di Indonesia belum menjadi anggota, International Olympic Committee (IOC), sehingga para atlet yang bakal dikirim tidak dapat diterima berpartisipasi dalam peristiwa olahraga sedunia.
Pengakuan dunia atas kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia yang belum diperoleh pada waktu itu juga menjadi penghalang besar dalam usaha menuju London. Paspor Indonesia tidak diakui oleh Pemerintah Inggris. Atlet Indonesia bisa ikut ke London dengan memakai paspor Belanda, hal yang tidak dapat diterima, karena kita hanya mau hadir di London dengan mengibarkan Dwi Warna Sangsaka Merah Putih. Alasan yang disebut belakangan inilah juga menyebabkan rencana kepergian beberapa anggota pengurus besar PORI ke London menjadi batal.
Masalah ini dibahas oleh konferensi darurat pada tanggal 1 Mei 1948 di Solo. Mengingat dan memperhatikan pengiriman para atlet dan beberapa anggota pengurus besar PORI ke London sebagai peninjau tidak membawa hasil seperti yang diharapkan, konferensi sepakat untuk mengadakan pekan olahraga, yang direncanakan berlangsung pada bulan Agustus/September 1948 di Solo. PORI ingin menghidupkan kembali Pekan Olahraga yang pernah diadakan ISI pada tahun 1938, terkenal dengan nama ISI sportweek, Pekan Olahraga ISI.
Ditilik dari penyediaan sarana olahraga, Solo dapat memenuhi persyaratan pokok, dengan adanya Stadion Sriwedari serta kolam renang, dengan catatan Sriwedari pada masa itu adalah yang terbaik di Indonesia. Tambahan pula pengurus besar PORI pada saat itu berkedudukan di Solo. Hal-hal demikianlah menjadi bahan-bahan pertimbangan bagi konferensi untuk menetapkan kota Solo sebagai kota penyelenggara Pekan Olahraga nasional Pertama (PON I) pada tanggal 8 s/d 12 September 1948. Maksud dan tujuan penyelenggaraan PON I adalah untuk menunjukkan kepada dunia luar, bahwa bangsa Indonesia, dalam keadaan darurat di tengah-tengah dentuman meriam, dalam keadaan daerahnya dipersempit sebagai akibat Perjanjian Renville, masih dapat membuktikan, sanggup menggalang persatuan dan kesatuan bangsa, yang berbeda-beda suku dan agamanya, akan tetapi tetap bersatu kokoh dalam Bhinneka Tunggal Ika. (sumber : http://www.koni.or.id)


2. PWI (Persatuan Wartawan Indonesia)
In the beginning of 1946, a few Indonesian journalist starts to discuss about the possibilities to form a journalist organization. This discussion was started in Yogyakarta, which at that time was the national capital of Indonesia.
Those journalist some comes from Jakarta, and worked in some major newspaper; such as, Republikein News, Indonesia News, Voice of Indonesia, LKBN ANTARA; which was the front-end of Indonesian media at the time to face the alliance troops (British and NICA - The Netherlands)
These meetings succeed to form a committee to prepare the founding of a journalist organization. This committee was founded on January 25h 1946. Beside this preparation committee, the congress committee or known as Panitia Permusyawaratan is also formed.
The congress was held in solo on February 9th - 10th 1946, attended by the delegations of Pakubuwono XII, Mangkunegoro VII, Tan Malaka and Soetomo a.k.a Bung Tomo, the journalist, publisher, magazine heads, radio announcers, governments and many more. The Minister of PENERANGAN , the Minister of Defence and Mohammad Tabrani were the speakers on that conference. With a full vote this congress agrees to form a journalist foundation named Persatoean Wartawan Indonesia (PWI) on February 9th 1946 in Solo.
PWI during the years have some great improvement until on May 20th 1975 was declared by the Ministry of Penerangan as the only journalist organization in Indonesia.
The Indonesian President at the time, Soeharto, on the 32nd anniversary of PWI along with the inauguration of the National Press Monument on February 9th 1978 in Solo, said:" PWI was founded only six months after Indonesian Independence, in the middle of the nations' live-or-die struggling. This shown that the journalist was one of the forces there, this is because PWI was born right on the middle of the battle." (Source: www.pwisulut.com)
Read More......

Tujuan Wisata di Solo

Solo, pada jaman dulu dikenal sebagai salah satu pusat pemerintahan jaman kerajaan Mataram Islam di Jawa. Dan karenanya Solo sangat kaya dengan peninggalan-peninggalan sejarah.
Karena kekayaan warisan sosial, budaya dan kesenian yang dimilikinya Solo yang telah berusia lebih dari 250 tahun dikenal juga sebagai Kota Budaya.
Sebagai 'Kota Budaya' yang menyimpan banyak peninggalan sejarah, Kota Solo banyak dikunjungi wisatawan yang ingin melihat dan menikmati warisan budayanya yang beraneka ragam. Diantaranya warisan budaya kota Solo yang dapat dinikmati adalah:

1. kraton Kasunanan surakarta hadiningrat Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dibangun pada tahun 1745 sebagai ganti ibu kota Kerajaan Mataram di Kartasura yang

hancur akibat pemberontakan orang-orang Cina melawan kekuasaan Susuhunan Paku Buwono II yang bertakhta di Kartasura (Geger Pacinan) pada tahun 1742.
Tugu Pamandengan
Titik akses utama menuju Keraton Surakarta dari arah utara sesungguhnya adalah Tugu Pamandengan. Tugu ini terletak sekitar 300 meter ke arah utara dari gerbang utama keraton yang disebut Gapura Gladag, tepat di depan Balaikota Surakarta saat ini.
Tugu Pamandengan berfungsi sebagai titik fokus pandangan Sri Susuhunan Pakubuwono ketika beliau duduk sinewoko di tempat yang ditinggikan di Bangsal Pagelaran. Memfokuskan pandangan pada Tugu Pamandengan terutama bagian puncaknya, dipercaya sebagai salah satu sarana meditasi yang sangat kuat bagi Sri Susuhunan Pakubuwono.

Gapura gladhaG
Lurus ke arah selatan dari Tugu Pamandengan terdapat satu gapura besar yang berfungsi sebagai pintu gerbang pertama memasuki kawasan keraton dari arah utara, gerbang ini dinamakan Gapura Gladhag. Gapura ini dibangun pada tahun 1913 M dan diperbaiki pada tahun 1930 M. Gapura Gladhag dihiasi dengan 48 motif dan 48 garis yang membentuk pagar, sebagai tanda peringatan ulang tahun Sri Susuhunan Pakubuwono X.
Di depan gapura, di sebelah kiri dan kanannya, berdiri dua buah arca kembar besar. Arca yang berwujud raksasa ini dinamakan Arca Pandhito Yakso, yang dibuat di Pandansimping Klaten.
Pada jaman dahulu tempat di belakang Gapura Gladhag dipergunakan sebagai tempat mengekang binatang-binatang hasil perburuan sebelum disembelih. Makna simbolis yang ada di area Gladhag adalah manusia yang ingin mendapatkan kekuatan fisik dan spiritual harus mampu menahan dan mengekang hawa nafsu.
Sebelum memasuki alun-alun utara kita melewati lagi gapura yang kedua dan ketiga, yang dinamakan Gapura Pamurakan, tempat ini dihiasi dengan motif dekorasi api dan matahari. Di tempat ini dulu dilakukan pemotongan hewan hasil perburuan seperti babi hutan, menjangan dan lain-lain untuk dibagikan pada rakyat. Tempat penyembelihan yang disebut Centheng dan berusia lebih dari 500 tahun, masih dapat ditemui sampai sekarang. Makna simbolis dari area ini adalah manusia harus mampu menahan/ membunuh emosi dan amarah.
Di sebelah selatan Gapura Pamurakan ditanam pohon beringin. Yang di sebelah kiri diberi nama Weringin Wok, yang artinya perempuan, sedangkan yang di sebelah kanan diberi nama Weringin Djenggot yang artinya laki-laki. Kedua pohon beringin ini pada jaman dahulu dipergunakan sebagai tempat istirahat prajurit Bang Wetan dan Bang Kulon.

2. Pura Kadipaten Mangkunegaran Puro Mangkunegaran dibangun pada tahun 1757, dua tahun setelah dilaksanakan Perundingan Gijanti yang isinya membagi pemerintahan Jawa menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Kerajaan Surakarta terpisah lagi setelah Raden Mas Said memberontak.

Pamedan
Puro Mangkunegaran dibangun pada tahun 1757, dua tahun setelah dilaksanakan Perundingan Gijanti yang isinya membagi pemerintahan Jawa menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Kerajaan Surakarta terpisah setelah Pangeran Raden Mas Said memberontak dan akhirnya atas dukungan Sunan lahirlah Perjanjian Salatiga yang isinya Pangeran Raden Mas Said diperkenankan mendirikan kerajaan sendiri. Raden Mas Said memakai gelar KGPAA Mangkunegoro I dan membangun wilayah kekuasaannya di sebelah barat tepian sungai Pepe di pusat kota yan sekarang bernama Solo.
Puro Mangkunagaran yang sebetulnya awalnya lebih tepat disebut sebagai tempat kediaman pangeran daripada istana, dibangun mengikuti model keraton tetapi bentuknya lebih kecil. Bangunan ini memiliki ciri arsitektur yang sama dengan kraton, yaitu pada keberadaan pamedan, pendopo agung, paringgitan, dalem ageng dan keputren, yang seluruhnya dikelilingi oleh tembok yang kokoh.
Seperti halnya bangunan utama di Kraton Surakarta dan Kraton Yogyakarta, Puro Mangkunegaran mengalami beberapa perubahan selama puncak masa pemerintahan kolonial Belanda di Jawa Tengah. Perubahan ini tampak pada ciri dekorasi Eropa yang popular saat itu.
Begitu memasuki pintu gerbang utama pura tampaklah Pamedan, yaitu suatu lapangan luas tempat berlatih prajurit pasukan Mangkunegaran. Di sebelah timur lapangan pamedan dapat dijumpai bangunan bekas kantor pusat pasukan berkuda pura Mangkunegaran, yang disebut Gedung Kavaleri.

3. Baluwarti
Di luar tembok kedhaton (tembok yang mengelilingi Kraton) Kasunanan Surakarta terdapat komplek bangunan yang dihuni oleh para pangeran, kerabat, abdi dalem pria dan wanita, disamping juga ada orang-orang yang melakukan pekerjaan bebas, misalnya berdagang. Wilayah ini di sebut Baluwarti (berasal dari kata Portugis Baluarte yang artinya benteng), merupakan lingkaran kedua, terletak diantara dua buah tembok besar berukuran tebal 2 meter dan tinggi 6 meter.
Wilayah ini mempunyai dua buah pintu, yaitu Kori Brajanala (Gapit ) utara dan Kori Brajanala (Gapit) selatan, satu dengan lainnya dihubungkan oleh dua jalur jalan yang sejajar dengan tembok kedhaton. Pada awal tahun 1900 Susuhunan Pakubuwana X memperluas wilayah Baluwarti dan menambahnya dengan dua buah pintu Butulan yang terletak di sebelah tenggara dan sebelah barat daya. Masing-masing diresmikan pada tahun 1906 M dan pada tahun 1907 M.
Dengan adanya dua pintu tambahan ini penduduk yang tinggal di Baluwarti dapat lebih leluasa berhubungan dengan masyarakat di luar komplek kedhaton.
Untuk dapat mengenal status penghuni sebuah rumah di Baluwarti, kita dapat memperhatikan bentuk rumah dan alat perlengkapannya. Secara umum rumah di Baluwarti dapat diklasifikasikan sedikitnya menjadi tiga kelompok. Pertama, tipe rumah Jawa lengkap berbentuk Joglo dengan pendapa, peringgitan, dalem ageng, ditambah dengan deretan rumah di kanan dan kiri, bahkan kadang-kadang juga di depan bangunan utama. Tipe rumah ini pada umumnya didirikan di halaman yang luas, dikelilingi oleh tembok yang cukup tinggi dan diberi regol ditengahnya. Kelompok kedua adalah tipe rumah Jawa berbentuk Limasan dan kelompok ketiga adalah bentuk Kampung serta bentuk lain yang lebih sederhana.
Pada umumnya rumah-rumah di Baluwarti termasuk tipe rumah sederhana. Disebelah utara, barat dan selatan di ketemukan beberapa saja dengan tipe pertama yang dihuni oleh golongan strata atas.
Penduduk yang tinggal di daerah Baluwarti dalam beberapa hal terikat pada peraturan-peraturan tertentu, misalnya hubungan mereka dengan masyarakat di luar Kori Brajanala, yang juga disebut Kori (lawang) Gapit, lebih terbatas, karena kori itu antara pukul 23.00 dan 05.30 ditutup. Selain itu apabila memasuki Baluwarti mereka harus menaati peraturan-peratuaran tertentu. Sampai pada abad XX penduduk Baluwarti walaupun berada di rumahnya sendiri, tidak diperkenankan duduk di kursi. Apabila ke luar rumah untuk suatu keperluan kecil pun, meraka harus menganakan pakaian yang rapi sesuai dengan kedudukan mereka. Mereka juga dilarang membunyikan gamelan.
Tidak seluruh tempat pemukiman di Baluwarti dipakai sebagai tempat kediaman secara pribadi. Ada beberapa yang diperuntukkan bagi kepentingan keraton, misalnya di sebelah barat Kori Brajanala Lor terdapat rumah penjagaan Dragorder, yang di kalangan penduduk dikenal sebagai Dragunder, berikutnya Mesjid Suranata dan tempat kereta raja.
Disebelah timur Kori Brajanala Lor itu terdapat Paseban Kadipaten, rumah penjagaan prajurit, dan di sebelah timurnya lagi terdapat Sekolah Ksatriyan. Di depan sekolah ini terletak Gedung Sidikara.
Di kanan dan kiri Kori Kemandhungan terdapat tempat kereta dan halaman depan kori itu, yang disebut Balerata atau Maderata, merupakan tempat untuk naik dan turun dari kereta.

4. Kampung batik Laweyan
Jika anda kurang tertarik dengan wisata makanan dan politik, datanglah ke Solo untuk wisata sejarah. Nikmatilah eksotisme kawasan kota tuanya.
Salah satu kawasan kota tua yang ada di Solo adalah Laweyan, yang baru saja dicanangkan sebagai Kampung Batik. Arahnya, dari Pasar Klewer, pusat perdagangan batik terbesar di Indonesia yang makin semrawut dan panas, lurus ke arah barat sekitar 3 kilometer.
Di sinilah Anda bisa menelusuri kawasan kota tua yang dibangun pada era kejayaan saudagar batik pribumi sejak akhir abad ke-19.
Di kawasan Laweyan ada Kampung Laweyan, Tegalsari, Tegalayu, Batikan, dan Jongke, yang penduduknya banyak yang menjadi produsen dan pedagang batik, sejak dulu sampai sekarang. Di sinilah tempat berdirinya Syarekat Dagang Islam, asosiasi dagang pertama yang didirikan oleh para produsen dan pedagang batik pribumi, pada tahun 1912.
Bekas kejayaan para saudagar batik pribumi tempo doeloe yang biasa disebut 'Gal Gendhu' ini bisa dilihat dari peninggalan rumah mewahnya. Di kawasan ini, mereka memang menunjukkan kejayaannya dengan berlomba membangun rumah besar yang mewah dengan arsitektur cantik.
Kawasan Laweyan dilewati Jalan Dr Rajiman, yang berada di poros Keraton Kasunanan Surakarta - bekas Keraton Mataram di Kartasura. Dari Jalan Dr Rajiman ini, banyak terlihat tembok tinggi yang menutupi rumah-rumah besar, dengan pintu gerbang besar dari kayu yang disebut regol. Sepintas tak terlalu menarik, bahkan banyak yang kusam. Tapi begitu regol dibuka, barulah tampak bangunan rumah besar dengan arsitektur yang indah. Biasanya terdiri dari bangunan utama di tengah, bangunan sayap di kanan-kirinya, dan bangunan pendukung di belakangnya, serta halaman depan yang luas.
Dengan bentuk arsitektur, kemewahan material, dan keindahan ornamennya, seolah para raja batik zaman dulu mau menunjukkan kemampuannya untuk membangun istananya, meski dalam skala yang mini. Salah satu contoh yang bisa dilihat adalah rumah besar bekas saudagar batik yang terletak di pinggir Jalan Dr Rajiman, yang dirawat dan dijadikan homestay Roemahkoe yang dilengkapi restoran Lestari.
Tentu saja tak semuanya bisa membangun "istana" yang luas, karena di kanan-kirinya adalah lahan tetangga yang juga membangun "istana"-nya sendiri-sendiri. Alhasil, kawasan ini dipenuhi dengan berbagai istana mini, yang hanya dipisahkan oleh tembok tinggi dan gang-gang sempit. Semangat berlomba membangun rumah mewah ini tampaknya mengabaikan pentingnya ruang publik. Jalan-jalan kampung menjadi sangat sempit. Terbentuklah banyak gang dengan lorong sempit yang hanya cukup dilewati satu orang atau sepeda motor.
Tapi di sinilah uniknya. Menelusuri lorong-lorong sempit di antara tembok tinggi rumah-rumah kuno ini sangat mengasyikkan. Kita seolah berjalan di antara monumen sejarah kejayaan pedagang batik tempo doeloe. Pola lorong-lorong sempit yang diapit tembok rumah gedongan yang tinggi semacam ini juga terdapat di kawasan Kauman, Kemlayan, dan Pasar Kliwon. Karena mengasyikkan, menelusuri lorong-lorong sejarah kejayaan Laweyan yang eksotis ini bisa menghabiskan waktu. Apalagi jika Anda melongok ke dalam, melihat isi dan keindahan ornamen semua "istana" di kawasan ini.
Tapi sayangnya satu per satu bangunan kuno yang berarsitektur cantik, hancur digempur zaman, digantikan ruko atau bangunan komersial baru yang arsitekturnya sama sekali tidak jelas. Pemerintah daerah setempat tak bertindak apa pun menghadapi kerusakan artefak sejarah ini. Bahkan bekas rumah Ketua Sarekat Dagang Islam H. Samanhoedi, yang seharusnya dilindungi sebagai saksi sejarah, sudah tidak utuh lagi, bagian depannya digempur habis. Bekas istana Mataram di Kartasura juga dibiarkan hancur berantakan.
Padahal secara yuridis sudah ada UU No. 5/1992 tentang Benda Cagar Budaya, yang merupakan pembaruan atas Monumenten Ordonantie No. 19/1931 (Staatsblad 1931 No. 238), yang mengatur perlindungan terhadap bangunan/situs bersejarah dan cagar budaya. Maka luangkan waktu untuk menikmati eksotisme kawasan kota tua Solo. Mumpung belum hancur semuanya.

5. Pasar Antik Triwindhu
Pasar Triwindu adalah pasar barang antik yang cukup lengkap dan nyaman. Pasar yang terletak di Jl. Diponegoro, sekitar 100 m dari gerbang Pura Mangkunegaran ini memiliki kios-kios mungil yang menyediakan berbagai benda antik, mulai dari koin-koin kuno hingga porselen Cina yang sudah berusia ratusan tahun dengan penataan yang bebas dan tidak kaku. Berbagai perhiasan, wayang dan topeng juga dapat Anda temukan di pasar yang dari depan tampak tidak terlalu menarik perhatian ini.
Gerbang Pasar Triwindu (Pasar Windu Jenar) ini memang sangat sederhana dan tidak terlalu mencolok, hanya terlihat seperti gapura untuk memasuki sebuah gang kecil. Namun begitu tiba di dalam, mata dijamin akan langsung kegirangan karena begitu banyak benda-benda unik yang tersaji. Selain benda antik, tak jarang benda baru yang dikondisikan menjadi tuapun dapat ditemukan di Triwindu. Pembeli memang diharapkan teliti dan memiliki pengetahuan tentang barang antik ketika berbelanja di pasar ini atau berbelanja bersama orang yang mengerti tentang barang antik.
Tawar-menawar adalah hal yang sangat wajar untuk dilakukan di sini. Sekali lagi, perhatikan dan perkirakan usia benda yang ingin dibeli. Kalau memang benda tersebut antik, jangan memberikan penawaran yang terlalu rendah. Salah satu hal yang paling menyenangkan ketika berbelanja di Pasar Triwindu adalah Anda diberikan keleluasaan untuk melihat-lihat, berkeliling dan menjatuhkan pilihan, tanpa diburu-buru oleh si penjual.

6. Museum Radyapustaka
MUSEUM yang berada di Kawasan Taman Sriwedari Solo ini, dulunya bernama Paheman Radyopustoko. Dari arti katanya, paheman berarti institusi atau lembaga, radyo adalah bangsa atau negara, sedangkan pustoko adalah pusat reverensi."Maka kalau dimaknai secara keseluruhan, kurang lebih artinya lembaga ilmu pengetahun semacam LIPI. Hanya, yang ini milik Keraton Surakarta dan sudah ada jauh sebelum kemerdekaan," tandas Mufti Rahardjo, Kurator museum tersebut, kemarin.
Menurutnya, Paheman Radyopustoko didirikan oleh KRA Sosrodiningrat IV pada 25 Oktober 1890. Sosrodiningrat adalah Pepatihdalem dari Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwono (PB) IX, Raja Keraton Surakarta Hadiningrat yang berkuasa antara tahun 1861 hingga tahun 1893.
"Awalnya Paheman Radyopustoko itu tidak di sini tempatnya, tetapi di Dalem Kepatihan yang sekarang menjadi Kantor Kejaksaan Negeri Surakarta dan sebagian lagi digunakan untuk sekolah menengah kejuruan negeri (SMKN) 8 Surakarta. Baru pada 1 Januari 1913, lembaga keraton itu dipindah ke Sriwedari," tuturnya.
Mufti mengatakan, Paheman Radyopustoko itu tidak hanya museum dan perpustakaan. Bahkan, menurut dia, museum dan perpustakaan tersebut sekadar pelengkap. Sebab, justru yang lebih penting lagi tentang kegiatan pusat studi. "Ada semacam diskusi atau sarasehan yang selalu diselenggarakan. Materi bersifat umum, mulai dari sastra, seni, sejarah, budaya hingga pengetahuan umum," ujarnya.
Ketika pindah ke Sriwedari, fungsi pusat studi itu masih berjalan dengan baik. Bahkan untuk kegiatan pusat studi tersebut, dulu disediakan dua paviliun yang terletak di sebelah barat dan timur museum. Di sebelah barat sekarang menjadi Graha Wisata, sementara disebelah timur dibangun Pujasari. Ketika masih menjadi paheman, yang mengelola adalah para abdi dalem keraton. Begitupun setelah Negara RI terbentuk, keraton masih turut terlibat. Meskipun, kemudian juga dibantu oleh yayasan (terbentuk beberapa tahun setelah kemerdekaan) dan juga pemerintah.
Namun mulai era 1960-an dan 1970-an, dengan mulai berkurangnya para pengurus paheman yang disebabkan meninggal dunia, lama-lama tinggal museum dan perpustakaan yang tersisa. Museum dan perpustakaan itulah yang masih bertahan hingga sekarang. Radyopustoko pun kemudian berubah menjadi museum umum, yang memiliki beberapa koleksi. Antara lain arkeologia seperti arca batu dan perunggu, keramika dari eropa tiongkok ataupun nusantara; tosan aji yang berupa benda-benda pusaka, naskah, nunismatika atau mata uang kuno, etnografika atau peralatan hidup zaman dulu; dan juga historika atau benda-benda sejarah (sumber: Wisnu Kisawa - Suara Merdeka).

7. museum batik kuno danarhadi
Museum Batik Kuno Danar Hadi menempati bekas bangunan klasik campuran Jawa dan Eropa yang dikenal sebagai Ndalem Wuryaningratan, di tepi Jalan Slamet Riyadi, Solo. Menurut pengusaha batik Danar Hadi yang juga pemilik museum, Santosa Dullah, museum yang mulai direnovasi tahun 1999 itu kini memiliki koleksi batik kuno dari berbagai corak dan gaya yang bernilai tinggi, seperti Batik Keraton, Batik Belanda, Batik Cina, Batik Hokokai, Batik Indonesia, dan Batik Saudagaran. Jumlah koleksinya mencapai 10.000 potong, di antaranya diperoleh dari Museum Troupen, Belanda. Museum Batik Kuno Danar Hadi itu diresmikan Wapres Megawati Soekarnoputri, pada tanggal 20 Oktober 2000.
Museum ini bisa terwujud, selain didasari oleh kecintaan pendirinya, Santosa Dullah, pada batik, tentu karena dari sebuah museum orang bisa belajar. Sedangkan menyangkut kepentingan praktis, bagi seorang pengusaha batik seperti Danar Hadi, museum ini bisa dimanfaatkannya sebagai referensi dalam membuat kreasi-kreasi baru. Dengan ketelatenan yang luar biasa ia mengumpulkan berbagai kain batik kuno dari tangan pertama maupun kolektor, baik dari dalam maupun luar negeri. Kain batik yang menjadi koleksi museum ini tentu tergolong langka, berkualitas, dan tidak diproduksi lagi secara umum.
Dari sekitar 10.000 potong koleksi batik yang berhasil dikumpulkan dalam kurun 30 tahun lebih, 1.500 potong di antaranya diperoleh dari koleksi pribadi seorang kurator Museum Troupen, Belanda. Batik-batik itu berangka tahun pembuatan antara 1840-1910. Tak diperoleh angka pembelian untuk koleksi asal Belanda tadi.
Hanya diperoleh keterangan bahwa untuk sepotong kain batik kuno rata-rata berharga sekitar Rp 2 juta. Bahkan untuk koleksi Batik Wonogiren milik pengusaha Batik Trisni di Solo mencapai Rp 5 juta. Itu sekadar petunjuk tentang nilai yang relatif dari sebuah karya seni. ANGKA-angka rupiah itu akan makin tak berarti bila dihadapkan pada sejumlah koleksi batik yang digolongkan pada Batik Keraton. Sejumlah kain batik kuno dengan motif khusus menempati satu ruang di bagian dalam yang cukup luas. Di ruangan yang didesain dengan atmosfer aristokrat ini, terpajang puluhan potong kain batik yang amat langka.
Batik-batik itu pada zamannya hanya dibuat khusus untuk para raja atau bangsawan tinggi setingkat adipati dan pangeran. Pada masa itu, batik-batik dengan motif-motif khusus tersebut merupakan batik sengkeran yang dilarang keras dikenakan oleh orang awam. Larangan yang dikeluarkan raja itu menimbulkan efek psikologis bahwa batik dengan motif seperti Parang Barong, Udan Liris, Semen Ageng, Semen Gurda mengandung sifat magis dan sakral.
Koleksi-koleksi itu sebagian diperoleh langsung dari empat istana di Solo dan Yogyakarta; yakni Keraton Kasunanan Surakarta, Keraton Kasultanan Yogyakarta, Pura Mangkunegaran serta Pura Pakualaman. Salah satu contohnya adalah kain batik milik Sri Susuhunan Paku Buwono X (1893-1939), batik dengan motif Ceplok Dempel yang langka ini konon ageman dalem (busana raja.
Ada beberapa kain koleksi PB X dipajang di satu sudut dengan foto diri Raja Surakarta itu beserta permaisuri GKR Hemas (putri dari HB VII). Di sudut lain, sejumlah kain koleksi Pura Mangkunegaran yang sebagian merupakan karya tulis (alm) Nyi Ageng Mardusari, salah seorang selir KGPAA Mangkoenagoro VII yang dikenal sebagai pesinden dan pembatik ulung. Karya batik Nyai Mardusari seperti Bogas Pakis memang amat elok, begitu pula karya KRAy Mangunkusumo, Gragah Waluh. Atau koleksi lain seperti Parang Sarpa. Warna soga-nya yang kekuningan dipadu dengan motif yang berlatar kebiruan menghasilkan nuansa yang mengesankan. Nuansa soga pada setiap istana memiliki ciri masing-masing. Batik Kasunanan cenderung coklat kemerahan, Batik Kasultanan coklat dan kontras dengan latar putihnya, sedang Batik Pakualaman cenderung krem.
Adapun sejumlah kain koleksi dari Keraton Kasultanan Yogyakarta serta Pakualaman menempati sudut yang lain. Di antaranya kain kemben liris koleksi permaisuri Sri Sultan Hamengku Buwono VII, serta batik Lereng Huk dari Pura Pakualaman.
Ada pula koleksi kain Dodot yang khusus dikenakan untuk busana tari Bedhaya Ketawang. Kain dodot biasanya berukuran panjang 4,5 meter dengan lebar 2,25 meter. Motifnya disebut alas-alasan yang menggambarkan isi hutan, dengan bentuk stilisasi (hewan dan tumbuhan) yang sederhana. Warnanya hijau polos, sedang lukisannya menggunakan bahan perada emas.
BAGI kalangan pecinta batik, atau mereka yang mampu mengapresiasi keindahan di balik batik, koleksi-koleksi di museum tersebut niscaya tak ternilai harganya. Apalagi bila dipahami bahwa dari sebuah artefak, kita bukan hanya menikmati aspek estetika melainkan juga nilai arkeologisnya. (diringkas dari: http://batikindonesia.info/category/batik-plus)

8. City Walk, Tempat "Srawung" Warga Solo
Kalau kita berjalan-jalan ke kota Solo sekarang ini, kita akan melihat kosmetik baru yang mempercantk wajah kota Solo. Banyak proyek-proyek pertamanan yang dikerjakan pemda setempat yang akhirnya membentuk public space, ruang milik bersama bagi penghuni kota untuk beraktivitas, bersantai maupun bersosialisasi. Salah satu proyek paling prestisius yang dikerjakan adalah proyek menyulap sisi selatan jalan protokol utama Jl Slamet Riyadi, yang sebelumnya merupakan jalur lambat menjadi pedestrian panjang untuk pejalan kaki, yang disebut Solo City Walk.
Solo city walk adalah sebuah proyek mercusuar pemda yang dilandasi pemikiran untuk mengangkat potensi Solo yang ada dan tumbuh dengan slogan Solo past as Solo future. Proyek ini bertujuan hendak mengembalikan ruang publik yang pernah ada dalam aktivitas masyarakat Solo dimasa lampau. Nilai-nilai adiluhung kota Solo tidak serta merta dapat dimasukkan dalam city walk yang ada karena kondisi sosial-kultural masyarakat masa kini yang beraneka ragam juga harus diperhatikan. Hal ini penting agar kehadiran city walk yang ingin metonjolkan sisi romantisme Solo dimasa lampau bisa menyatu dengan kebijakan pengembangan lain yang dilakukan pemda maupun pihak swasta.
Koridor jalan protokol Slamet Riyadi yang dipilih mempunyai banyak titik-titik menarik yang sangat mendukung perencanaan city walk Jalur wisata mulai dari Stasiun Purwosari berujung di kawasan benteng Vastenburg dan Pasar Gede, dipenuhi bangunan-bangunan heritage yang beberapa masih tegak berdiri. Dijalur ini dapat dijumpai pusat perbelanjaan modern, kawasan konservasi Sriwedari, Museum Radya Pustaka, Museum Batik Kuno Danarhadi, Kawasan Ngarsopuran Mangkunegaran, Kampung Kauman (yang saat ini juga dicanangkan sebagai salah satu kampung wisata batik di Solo yang juga menawarkan wisata suasana religius Islam yang kental), Gladhag, Alun-Alun Utara, Masjid Agung Solo, kawasan keraton Kasunanan, benteng Vastenburg, yang kemudian dapat dilanjutkan ke pasar tradisional Pasar Gede.
Saat ini sisi selatan Jalan Slamet Riyadi telah mengalami perubahan berupa penataan kawasan pedestrian dengan jalur hijau dan jalur pejalan kaki. Pedagang kaki lima yang keberadaannya berusaha dihilangkan atau diposisikan sebagai pihak yang terpinggirkan di kebanyakan kota-kota besar di Indonesia, diberi tempat-tempat khusus dan diberikan sarana berjualan yang seragam dan rapi. Pemda menyadari bahwa keberadaan mereka merupakan salah satu unsur unik yang memerlukan proses kebijakan untuk penataan dan juga memiliki hak untuk memanfaatkan kota sebagai publik domain. Salah satu potensi unik Solo yang sudah jarang dijumpai di Indonesia dan kebetulan juga terletak di sisi selatan Jalan Slamet Riyadi adalah keberadaan rel trem sebagai sarana transportasi, jika keberadaan rel trem ini diberdayakan kembali sebagai penunjang City Walk dapat dipastikan Solo city walk merupakan city walk yang paling unik karena satu-satunya city walk yang tiap waktu tertentu dilalui oleh kereta. Jangan lupakan juga keberadaan becak sebagai sarana transportasi tradisional kota. Luar biasa.
Keberadaan jalur hijau yang lebar disepanjang koridor Jalan Slamet Riyadi juga menjadi salah satu potensi yang telah disulap menjadi salah satu elemen penunjang yang sangat menarik. Jalur ini telah berubah menjadi taman kota yang dilengkapi tempat duduk cantik yang berfungsi sebagai tempat singgah untuk beristirahat, menikmati kesejukan dan keindahan bunga, jogging atau berolahraga. Satu hal yang dirindukan oleh masyarakat kota. Atau lakukan rekreasi edukatif melaui informasi historikal yang dapat dijumpai di museum Radya Pustaka yang saat ini keberadaannya sebagai museum tertua mulai terlupakan atau museum Batik Kuno Danarhadi.
Lebarnya pedestrian, taman yang tertata rapi dan fasilitas penunjang lainnya yang memadai, membuat kawasan ini menjadi lokasi yang ideal untuk dilakukannya festival-festival seni. Festival Nasi Liwet dan Solo Art Festival adalah contoh festival-festival yang telah memanfaatkan keberadaan kawasan ini.
Yang harus juga diingat oleh pemda Solo, bukan hanya pembangunan fisik yang harus dilakukan untuk mengembangkan Solo sebagai solo's past as solo's future tetapi juga unsur non fisik yakni keberadaan warga Solo yang akan turut mendukung keberadaan city walk ini. Pola pikir masyarakat yang terbentuk agar mencintai kotanya sebagai Heritage City dan kesadaran masyarakat akan potensi historis kotanya akan berpengaruh langsung dalam mewujudkan image yang ingin ditampilkan. Perlu proses panjang memang yang melibatkan berbagai pihak apalagi di tengah hiruk pikuk pro kontra yang masih bermunculan.
Read More......

Kalender Wisata Soloraya

Sebagai bagian dari upaya melestarikan, melindungi dan memperkenalkan budaya Jawa, disamping juga menjaga predikat sebagai Kota Budaya, di Solo banyak diadakan perayaan-perayaan ritual yang kebanyakan terkait dengan perayaan hari besar agama Islam dan terpusat di Kraton maupun Pura Mangkunegaran.
Dalam perayaan-perayaan tersebut puluhan ribu orang dari Solo dan sekitarnya berdatangan ke Solo sebagai kota raja untuk ikut merayakan, bergembira maupun sekedar bernostalgia dan memenuhi rasa penasaran.
Berikut ini perayaan-perayaan yang rutin diadakan di kota Solo.

1. Sekaten - Garebeg Mulud
Sekaten adalah suatu pesta rakyat yang diselenggarakan selama satu bulan penuh setiap tahun di Alun-Alun Utara, Masjid Agung, serta Komplek Karaton Surakarta Hadiningrat dalam menyambut datangnya Maulud Nabi Muhammad SAW. Sekaten berasal dari kata 'Sekati' yang berarti meng-estimasi dan meng-evaluasi untuk menentukan baik dan buruknya sesuatu. Tetapi ada juga beberapa kalangan yang mengangap kata sekaten merupakan asimilasi dari bahasa Arab 'Syahadatain'.
Banyak sekali kegiatan yang disajikan dalam perayaan Sekaten, mulai dari pasar murah, pasar malam, pameran sampai dengan pertunjukan-pertunjukan kesenian. Ada beberapa benda yang khas atau erat banget hubungannya dengan sekaten, yaitu mainan kodok-kodokan, gasing, kapal-kapalan, brondong nasi, cambuk serta celengan gerabah.
Beberapa kalangan (terutama generasi muda) sepertinya sudah kehilangan ketertarikan pada perayaan Sekaten. Hal ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh semakin banyaknya pilihan hiburan yang dapat dijumpai di Kota Solo saat ini sebagai dampak modernisasi. Sebuah pekerjaan rumah yang tidak ringan bagi Kraton maupun Pemda Surakarta untuk dapat mengemas kegiatan Sekaten ini semenarik mungkin (tanpa kehilangan makna dan nuansa tradisi) agar dapat menemukan kembali daya magnetnya untuk menarik semua kalangan untuk kembali datang mengunjunginya.
Tapi bagi penggemar fotografi, Sekaten adalah salah satu surga untuk mendapatkan object foto yang menarik.
Perayaan Sekaten mencapai puncak saat ditabuhnya Gamelan Kyai Guntur Sari dan Gamelan Kyai Guntur Madu di Masjid Agung sebagai tanda Sekaten resmi dibuka. Kedua gamelan ini ditabuh selama seminggu pada tanggal 5 s/d 12 Rabiulawal dari jam 10:00 am sampai jam 10:00 pm, dengan jeda pada saat adzan. Penabuhnya adalah abdi dalem keraton yang disebt abdi dalem 'Niyogo'. Ada beberapa ritual yang khusus dan istimewa dari perayaan Sekaten, yaitu: ritual makan sirih dan telur asin Endog Kamal saat ke-dua gamelan ditabuh.
Gendhing pertama yang ditabuh pada perayaan sekaten adalah gendhing Rambu yang dimainkan oleh gamelan Kyahi Guntur Madu, yang ditabuh setelah Ashar. Gendhing kedua yang dimainkan oleh gamelan Kyahi Guntur Sari disebut gendhing Rangu.
Pada hari ketujuh (tanggal 12 Rabiulawal) pagi, kedua gamelan dibawa kembali masuk ke Keraton. Hal ini menandakan bahwa prosesi Gunungan akan segera dimulai. Prosesi ini dikenal dengan nama Hajat Dalem Pareden Gunungan garebeg Mulud. Gunungan yang dibawa dari dalam keraton menuju masjid agung untuk diperebutkan masyarakat terdiri dari gunungan kakung, gunungan putri dan gunungan anak. Dalam perjalanan menuju masjid agung, gunungan dikawal oleh prajurit Wirengan dengan diiringi gendhing yang dimainkan dari gamelan Corobalen.
2. kirab pusaka 1 suro
Kirab pusoko 1 Suro adalah prosesi kirab pusaka-pusaka sakral milik Kraton maupun Puro Mangkunegaran. Kirab dilakukan pada malam 1 Suro (tahun baru Jawa) atau tahun baru Islam, 1 Muharram.
Kirab di Puro Mangkunegaran biasanya mulai dilakukan pada jam 7 malam sampai selesai dengan cara berjalan kaki mengelilingi tembok Pura dengan tapa bisu (tidak mengeluarkan suara selama kirab).
Sedangkan kirab pusaka di Keraton Surakarta baru dimulai pada tengah malam sampai sekitar jam 3 dini hari, dengan rute melalui Alun-Alun Lor, Gladhag, Sangkrah, Pasar Kliwon, Gading, Gemblegan, Nonongan, Jl Slamet Riyadi dan kembali ke kraton melalui Gladhag dan Alun-Alun Lor dengan melalui jalur yang disebut Pradaksina (mengikuti arah jarum jam), dengan selalu menjaga posisi kraton berada di sebelah kanan pusaka yang dikirab.
Pusaka yang dikirab dibawa oleh sentono dalem (keluarga raja) dan abdi dalem yang terpercaya dan kuat secara fisik maupun spiritual karena pusaka tersebut dipercaya memiliki kekuatan spiritual yang besar. Sebelum prosesi kirab dilakukan, pusaka-pusaka yang akan dikirab akan di-jamas (dibersihkan) terlebih dahulu. Selama pusaka dibawa keluar dari Dalem Ageng Probosuyoso, Susuhunan dan sentono dalem yang tidak ikut kirab akan melakukan sesi meditasi dan Tahajud di Kagungan Dalem Masjid Pudyosono.
Kirab 1 Suro di Kraton Kasunanan Surakarta dipimpin oleh sekelompok kebo bule yang disebut kebo Kyahi Slamet. Kebo Kyahi Slamet biasa hidup mengembara disekitar Solo, mereka akan datang ke Kemandungan Lor setiap perayaan kirab 1 Suro akan dimulai tanpa ada yang mengarahkan. Begitupun ketika memimpin kirab, kebo Kyahi Slamet berjalan tanpa ada yang mengarahkan.
Read More......

31 Maret 2009

Obyek Wisata di sekitar solo

Setelah puas menjelajahi Kota Solo, tidak ada salahnya jika anda mengarahkan tujuan wisata anda sedikit keluar kota untuk menengok beragam kekayaan sejarah dalam bentuk bangunan-bangunan candi yang cantik dan pesanggrahan kuno, kecantikan alam yang asri sampai peninggalan purbakala jaman prasejarah.
Beberapa tempat disekitar Solo yang dapat menjadi pilihan untuk dikunjungi adalah:

1. candi sukuh
Candi Sukuh merupakan candi yang berlatar belakang agama Hindu. Berdasarkan prasasti yang ada di sekitar candi, Candi Sukuh didirikan antara tahun 1359 - 1378 Saka atau tahun 1437 - 1456 Masehi (sekitar abad XV).
Meskipun berlatar belakang agama Hindu, bentuk bangunan candi cenderung kembali ke bentuk bangunan pada jaman pra sejarah yaitu struktur Punden Berundak.
Apa daya tarik utama dari candi yang dikelilingi hutan pinus ini?

Yang membuat Candi Sukuh menarik adalah bentuk candi, arca dan lukisan relief yang sungguh unik dan berbeda dengan candi lainnya. Candi ini dipenuhi arca dan relief yang menggambarkan perwujudan kelamin lelaki dan perempuan secara gamblang, telanjang dan naturalis.
Hal inilah yang memicu timbulnya julukan "The Most Exotic Temple in The World" bagi Candi Sukuh. Tak jarang mereka melontarkan tuduhan sebagai candi porno yang mengajarkan pendidikan seks secara vulgar.
Komplek Candi Sukuh dibagi menjadi teras-teras yang secara keseluruhan dibagi menjadi 3, yaitu:
 Teras 1, pada bagian ini terdapat gapura berbentuk trapesium, yang memiliki relief berbentuk manusia yang sedang dimakan raksasa, yang merupakan sengkalan 'Gapuro Buto Aban Wong' yang melambangkan tahun 1359 Saka. Pada lantai gapura terpahat relief Phallus (lingga) dan Vagina (yoni) secara naturalis.
Menurut cerita rakyat, di masa lalu relief lingga-yoni itu digunakan untuk membuktikan kesucian seorang gadis. Apabila seorang mempelai perempuan yang akan menikah melangkahi relief tersebut dan kainnya sobek, tandanya sang mempelai tak lagi suci. Demikian sebaliknya. Namun sekarang pintu gerbang tersebut telah ditutup atas berbagai pertimbangan.
 Teras 2, pada teras ini terdapat arca 2 penjaga gerbang dengan wajah mengerikan. Selain itu dibagian ini terdapat juga relief yang merupakan sengkalan yang berbunyi 'Gajah wiku anahut buntut' yang melambangkan tahun 1378 Saka.
 Teras 3, pada teras ini terdapat gapura yang sudah tidak utuh lagi. Bagian ini merupakan bagian yang paling suci, karena pada bagian inilah candi utama terletak. Candi ini menghadap ke barat dan berbentuk piramida terpancung, dan di bagian atas terdapat altar untuk pemujaan. Di depan candi utama terdapat 3 arca kura-kura raksasa dan subbasement yang berisi relief cerita Sudamala dan Garudeya.
Berdasarkan relief Sudamala dan Garudeya yang terdapat pada teras ke 3 candi itulah para peneliti menyimpulkan bahwa Candi Sukuh erat kaitanya dengan upacaya pelepasan dan ruwatan.
Dimana letak Candi Sukuh dan bagaimana cara mencapainya?
Secara administratif Candi Sukuh terletak di Dusun Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. Sedangkan secara geografis Candi Sukuh terletak di ketinggian 1186 meter dpl di lereng sebelah barat Gunung Lawu, sekitar 34 km arah timur kota Solo atau sekitar 1,5 jam berkendaraan dari kota Solo.
Untuk mencapai Candi Sukuh, bisa dibilang mudah. Akses transportasi dan akomodasi yang tersedia cukup memadai. Sepanjang perjalanan Solo-Candi Sukuh yang berkelak-kelok, kita bisa menikmati suasana pegunungan dan hamparan perkebunan kopi, teh, karet, dan coklat.
Bagi yang memilih angkutan umum, bisa memulai perjalanan dari terminal Tirtonadi, Solo, lalu naik bus jurusan Karanganyar-Tawangmangu. Turun di terminal Karangpandan untuk mencari kendaraan elf yang menuju terminal Kemuning. Sesampai di pertigaan Kemuning-Candi Sukuh, anda bisa memilih berjalan kaki sejauh 800 m atau naik motor ojek sampai pelataran candi.

2. candi cetho
Candi Cetho (cetho = jelas, jernih tanpa halangan) merupakan sebuah candi peninggalan budaya Hindu dari abad ke-14 pada masa akhir pemerintahan Majapahit. Fungsi candi ini tidaklah berbeda dengan candi Hindu yang lain yakni sebagai tempat pemujaan. Sampai saat inipun Candi Cetho tetap digunakan oleh penduduk sekitar yang memang merupakan penganut agama Hindu.
Cetho terdiri dari sembilan trap (tingkat) berbentuk memanjang kebelakang dengan trap terakhir sebagai trap utama pemujaaan terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa (seperti bentuk-bentuk tempat pemujaan pada masa purba yaitu Punden Berundak). Trap-trap tersebut adalah:
 Trap pertama setelah gapura masuk merupakan halaman candi.
 Trap kedua masih berupa halaman namun ditrap ini terdapat petilasan Ki Ageng Krincingwesi yang merupakan leluhur masyarakat Cetho.
 Pada trap ketiga terdapat sebuah soubment memanjang di atas tanah yang menggambarkan nafsu badaniah manusia (nafsu hewani) berbentuk phallus (alat kelamin laki-laki) sepanjang lebih dari 2 m, dengan diapit dua buah lambang kerajaan Majapahit menunjukkan masa pembuatan candi.
 Pada trap keempat dapat ditemui relief pendek yang merupakan cuplikan kisah Sudhamala, (seperti yang terdapat pula di Candi Sukuh) yaitu kisah tentang usaha manusia untuk melepaskan diri dari malapetaka.
 Pada trap kelima dan keenam terdapat pendapa-pendapa yang mengapit jalan masuk candi. Sampai saat ini pendapa-pendapa tersebut masih sering digunakan sebagai tempat melangsungkan upacara-upacara besar keagamaan.
 Trap ketujuh dapat ditemui dua buah arca di samping kanan kiri yang merupakan arca Sabdopalon dan Nayagenggong, dua orang abdhi kinasih dari Sang Prabu Brawijaya yang juga merupakan penasehat spiritual dari beliau. Hal ini melambangkan kedekatan jiwa beliau dengan rakyatnya yang diwakili kedua tokoh tersebut.
 Pada trap kedelapan terdapat arca Phallus (kuntobimo) di samping kiri dan arca Sang Prabu Brawijaya yang digambarkan sebagai "mahadewa". Arca phallus melambangkan ucapan syukur atas kesuburan yang melimpah atas bumi cetho dan sebuah pengharapan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar kesuburan yang dilimpahkan itu tak kan terputus selamanya. Arca Sang Prabu Brawijaya menunjukkan penauladanan masyarakat terhadap kepemimpinan beliau, sebagai raja yang bèrbudi bawa leksana, ambeg adil paramarta yang diyakini pula sebagai utusan Tuhan di muka bumi.
 Trap terakhir (trap kesembilan) adalah trap utama yang merupakan tempat pemanjatan doa kepada Penguasa Semesta yang berbentuk kubus berukuran 1,50 m2.
Candi Cetho menghadap ke arah barat hal ini berbeda dengan candi-candi yang ada di Jawa Tengah karena Candi Cetho begitu pula Candi Sukuh dibangun pada masa Majapahit sehingga dengan sendirinya pembangunan candi terpengaruh oleh apa yang terbiasa ada di candi-candi Jawa Timur.
Di sebelah atas bangunan Candi Cetho terdapat sebuah bangunan yang pada masa lalu digunakan sebagai tempat membersihkan diri sebelum melaksanakan upacara ritual peribadahan (patirtan). Sedangkan di sebelah barat dari bangunan candi dengan menuruni lereng yang sangat terjal bisa ditemukan lagi sebuah bangunan candi yang oleh masyarakat sekitar disebut sebagai Candi Kethek. Namun sayang sekali sampai saat ini penggalian candi belum dilakukan.
Bangunan Candi Cetho secara keseluruhan terbuat dari batu-batuan yang dipahat berbentuk persegi empat dan ditata rapi untuk ubin, ataupun pagar serta relief candi. Kebanyakan arca dan relief sudah banyak mengalami kerusakan. Candi Cetho yang terletak di lereng Gunung Lawu sebelah barat masuk di kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, dikelilingi kelebatan rimba dan sejuknya udara kebun teh Kemuning.

3. tawangmangu
Tawangmangu, sebuah tempat plesiran 42 km sebelah Timur kota Solo. Tawangmangu terletak di lereng sebelah Barat Gunung Lawu pada ketinggian 1050 meter dpl. Kalau terus ke timur (sekitar 16 km lagi) kita akan sampai ke suatu tempat plesir yang lain yang bernama Telaga Sarangan yang terkenal karena telaga pasirnya.
Tujuan utama wisatawan yang berkunjung ke Tawangmangu adalah air terjun Grojogan Sewu. Untuk mencapai air terjun Grojogan Sewu, anda harus berjalan menuruni anak tangga yang jaraknya (kalau dihitung dari pintu masuk) sekitar 600 meter. Disepanjang jalur anak tangga ini dapat kita jumpai kera-kera jinak yang merupakan penghuni hutan wisata Tawangmangu.
Rasa capek yang anda rasakan selama menuruni anak tangga akan segera hilang, begitu anda sampai di dasar air terjun. Air terjun setinggi 80 meter ini memilki pesona yang khas, di dasar air terjun terdapat batu-batu padas berukuran besar. Percikan air yang memantul ketika air sampai ke dasar dapat kita rasakan seperti gerimis sampai jarak sekitar 60 meter (yang tentu saja bisa membuat kita basah kuyub).
Bila pakaian anda basah jangan kuatir, di dekat air terjun terdapat kolam renang yang cukup bersih. Nah, anda dapat berenang disini sambil menunggu baju anda kering (baju renang dapat anda sewa disini). Tapi jika anda kurang nyaman berenang dengan baju renang sewaan, anda dapat berjemur di pinggir kolam sampai baju anda kering ...he..he..
Selain ke Grojogan Sewu, wisatawan biasanya juga mengunjungi taman wisata Balekambang. Ditaman ini selain bisa beristirahat sambil menikmati taman, wisatawan bisa juga menikmati fasilitas olah raga seperti kolam renang dan lapangan tenis. Di sekitar taman Balekambang inilah dapat kita jumpai banyak rumah makan dan hotel melati.
Selain sebagai resort wisata, Tawangmangu biasanya juga dipergunakan sebagai lokasi transit bagi penganut Kejawen yang ingin melakukan ziarah. Biasanya para penganut kejawen akan pergi ke dua tempat yaitu:
 Gua Pringgodani, dapat dicapai dengan berkuda dari Tawangmangu, digunakan sebagai tempat meditasi.
 Puncak Lawu, tempat yang dipercaya memiliki kekuatan magis dan dipercaya merupakan tempat peristirahatan terakhir Prabu Brawijaya V (Maharaja Majapahit terakhir)
Seperti banyak resort pegunungan yang lain, di Tawangmangu banyak dijumpai penjual sate kelinci. Penjual sate kelinci biasanya berjualan dengan pikulan dan berjualan di sela-sela pohon cemara.

4. sangiran
Sangiran adalah sebuah kawasan yang terletak 15 km di sebelah utara koto Solo ke arah Purwodadi. Sangiran adalah tempat yang sangat penting untuk mempelajari Pithecanthropus Erectus, manusia pra-sejarah dari Jawa. Tanah di Sangiran banyak menyimpan fosil mahluk hidup dari jaman pra-sejarah.
Di Sangiran terdapat Museum Pleistocene yang menyimpan tulang-tulang Pithecanthropus Erectus, fosil tumbuhan maupun fosil binatang. Sangiran juga adalah tempat yang penting untuk mempelajari teori evolusi manusia, fosil manusia purba yang ditemukan di Sangiran, dianggap sebagai salah satu mata rantai dalam teori evolusi manusia.
Bagi ilmuwan yang bergerak dibidang Geologi, anthropologi dan arkeologi Sangiran sangat menarik untuk wisata ilmu pengetahuan. Banyak ahli Geologi, anthropologi dan arkeologi datang ke situs ini untuk melakukan riset dan belajar, diantaranya: Van Es (1939), Duyfyes (1936), Van Bemmelen (1937), Van Koeningswald (1938), Sartono (1960), Suradi (1962) dan Otto Sudarmaji (1976). Van Koeningswald menemukan paling tidak ada lima fosil manusia purba yang berbeda –beda jenisnya yang ditemukan di Sangiran, dan ini sangat mengagumkan.
Tidak ada tempat lain di dunia ini yang kekayaan fosilnya menyamai apalagi melebihi Sangiran. Fosil-fosil yang ditemukan di Sangiran sangat beragam, ada fosil mahluk hidup dari daratan, maupun fosil mahluk hidup dari lautan. Dari hasil temuan ini, ada kemungkinan bahwa pulau Jawa terangkat dari dasar laut jutaan tahun yang lalu.
Pada tahun 1891, Eugene Dubois, ahli antropologi dari Perancis menemukan fosil Pithecanthropus Erectus, manusia purba tertua dari Jawa. Kemudian di tahun 1930 dan 1931, di desa Ngandong, Trinil-Mojokerto, ditemukan juga fosil-fosil manusia purba yang berasal dari jaman Pleistocene. Penemuan-penemuan ini mengungkap sejarah manusia yang hidup berabad-abad yang lalu.
Prof. Dr. Van Koenigswald di tahun 1936 menemukan lebih banyak lagi bukti-bukti yang mendukung teori evolusi manusia. Fosil-fosil yang ditemukannya mendukung teori yang menyatakan bahwa manusia berevolusi dari manusia kera menjadi manusia seperti bentuk saat ini.
Fosil lain yang ditemukan di Sangiran, seperti fosil mammoth (gajah dari jaman pra sejarah) saat ini disimpan di Museum Geologi Bandung. Pada pertengahan tahun 1980 an, penemuan mammoth utuh setinggi 4 meter mengejutkan dunia ilmu pengetahuan.
Saat ini, penduduk desa disekitar Sangiran banyak yang menjadi pengrajin souvenir dari batu yang dibentuk menyerupai kapak, telur, cincin dan bentuk-bentuk patung lain untuk menarik wisatawan.
Karena kekayaan jenis fosil yang dikandungnya, bumi Sangiran telah ditetapkan UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia.

5. Pandawa water world
Air dianggap dapat menenangkan jiwa. Tidak heran, berbagai obyek wisata air baik wisata air alami maupun buatan kerap menjadi sasaran kunjungan untuk menghabiskan masa libur.
Di wilayah Solo Raya, ada obyek rekreasi air baru. Berlokasi di Solo Baru, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Pandawa Water World (PWW) menjadi salah satu alternatif pilihan mengisi masa berlibur bersama keluarga.
Mengikuti tren obyek wisata air lainnya, PWW tidak mau ketinggalan menawarkan wahana yang sedang digemari kini, water boom. Wahana lainnya adalah volcanic pond atau kolam air panas, water curtain, aerated crater, raft slide, racer slide, earth shower dan mountain cavern.
Selain menawarkan suasana rekreatif, atmosfer petualangan muncul kala me-nikmati beberapa wahana yang menantang nyali, seperti bungee jumping, body slide dan black hole.
PWW yang ingin langsung dikenal dan melekat di benak masyarakat kemudian menerapkan strategi mengangkat wayang guna memberi karakter pada wahana-wahana yang ada. Sebagai contoh, kolam ombak bernama Kresna Wave Pool. Wahana bungee jumping disebut Gatotkaca Bungee Tower dan Gatotkaca Drop Pool, sedangkan kolam anak dan balita berjudul Kunti Children and Toddler Pool.
Penamaan sekaligus personifikasi tokoh wayang tersebut berupa patung berukuran sangat besar yang mencolok dan menjadi kekuatan desain area water world secara keseluruhan.
Harga tiket masuk Rp 100.000 per orang untuk Sabtu-Minggu, Rp 35.000 per orang tiap Senin, dan Rp 50.000 per orang Selasa-Jumat.
Pada akhir pekan dan hari libur nasional, PWW dibuka pukul 08.00- 18.00. Sisanya dibuka pukul 10.00-18.00.
Untuk keamanan ada 25 life guard untuk tiap sif jaga. Jika ingin nyaman, bermain air lebih menyenangkan kala pagi atau sore hari ketika surya tidak terlalu terik.

Read More......

Tentang Solo

Berikut ini beberapa tulisan yang akan membuat kita semua semakin mengenal Solo dengan lebih baik.

1. Dusun Sala dan Kraton Surakarta Hadiningrat
MENGGAH dhusun ingkang nama Sala punika sampun wonten ing Keraton Pajang, nalika jamanipun Kangjeng Sinuhun Sultan Hadiwijaya. Kamisepuh bebekeling dhusun punika Ki Gedhe Sala, pramila dhusunipun lajeng katelah aran nama dhusun Sala.(Babad Sala:RM Sajid)
Jauh sebelum pindahnya Keraton Kartasura, sebenarnya nama dhusun Sala (sekarang Solo) sudah lebih dahulu ada. Seperti apa yang diungkapkan RM Sajid, ketika zaman Kerajaan Pajang pun dusun itu telah sering disebut-sebut. Bahkan malah sudah sangat dikenal.

Pada saat itu, ketika masih belum menjadi kuthapraja Keraton Surakarta, sebenarnya wilayah dari Dhusun Sala juga sudah cukup luas. RM Sajid menggambarkannya dengan memberikan batasan-batasan yang kalau dilihat pada zaman sekarang bisa melintasi wilayah beberapa kecamatan (Pasar Kliwon, Banjarsari, Laweyan, dan Jebres). "Dhusun Sala punika wiyar tebanipun. Ingkang kangge wates kali kaliyan bengawan. Ing sisih eler Kali Pepe, ing sisih wetan Bengawan Beton. Mangidul dumugi dhusun Nusupan, ingkang sisih kidul Kali Wingka. Dene ing sisih kilen watesing garisipun menggak-menggok, wiwit saking Kali Pepe wingking gedung bioskop Purbayan, mangidul terus dumugi Gadhing terus mengidul dumugi kali wingka. Inggih punika ingkang dipun wastani dhusun Sala."

Dengan referensi yang demikian, maka usia dhusun Sala sebenarnya sudah mencapai 4 - 5 ratusan tahun. Mengapa demikian? Karena menurut sejarah yang ada, Keraton Pajang itu sudah ada sejak abad ke-16 atau sekitar tahun 1500-an Masehi.
Namun yang terjadi sekarang, hari jadi Kota Solo justru diperingati dengan berpijak pada perpindahan Keraton Kartasura ke dusun tersebut pada 17 Februari 1745. Tentu saja itu menjadi menarik, mengingat jauh sebelumnya dhusun Sala sebenarnya sudah ada. Setidaknya, mungkin akan timbul pertanyaan, mengapa kemudian hari jadinya tidak diperingati dengan mencari data sebelum pindahnya Keraton Kartasura.
Tentang hal tersebut, kurator Museum Radyo Pustoko Drs Mufti Rahardja memberikan alasannya. "Hal itu terkait dengan apa yang disampaikan SISKS Paku Buwono (PB) II ketika kali pertama menempati Keraton Surakarta," paparnya. Menurut dia, pada 17 Februari 1745 yang jatuhnya pada hari Rabu Kliwon tersebut, PB II bertitah yang intinya, sejak saat itu meminta dhusun Sala untuk diganti dengan nama Surakarta Hadiningrat. "Saat itu Sinuhun ngandika, dina iki desa Sala tak pundhut, tak ganti dadi Surakarta Hadiningrat," ujar Mufti.

Hari saat munculnya titah itulah yang menurut dia menjadi rujukan. Kemudian, setiap tanggal tersebut digunakan sebagai peringatan hari jadi Kota Solo. Meski sebenarnya jauh sebelum itu nama dhusun Sala sudah ada, bahkan sudah berkembang pesat. (sumber: Wisnu Kisawa - Suara Merdeka)

2. Beringin Simbol Kebesaran Raja
POHON ini memang tak seperti lazimnya pohon-pohon lain. Bukan saja karena umurnya yang bisa mencapai ratusan tahun atau selalu dikaitkan dengan mitos wingit pada setiap keberadaannya, melainkan pohon ini memang menyimpan sejarah tentang simbolisme kebesaran seorang raja. Ya, puluhan hingga ratusan tahun lalu, ketika para raja masih mempunyai otoritas penuh atas kekuasaan wilayah kerajaannya, beringin pernah menjadi bukan sembarang pohon.
Tak percaya, cobalah simak Perjanjian Salatiga yang menjadi cikal bakal berdirinya Pura Mangkunegaran pada 1757. Dalam perjanjian tersebut diungkapkan, Pangeran Sambernyawa atau Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario (KGPAA) Mangkunegara I, diberi wewenang untuk mendirikan kerajaan (Pura Mangkunegaran). Namun hal itu dengan beberapa syarat, salah satunya beliau tidak diperkenankan menanam pohon beringin.
Dari apa yang terungkap dalam perjanjian itu, jelaslah sudah betapa pada saat itu pohon beringin ditempatkan secara khusus, yakni sebagai simbol kebesaran seorang raja. Karena itu, ketika Pura Mangkunegaran berdiri tetapi masih di bawah kekuasaan Keraton Surakarta Hadiningrat, penguasa Pura tidak diperkenankan menanam pohon yang umurnya bisa mencapai ratusan tahun tersebut.

Cerita lain yang mengungkapkan pohon beringin sebagai simbol kebesaran raja, juga terdapat dalam buku Sri Radya Laksana karangan Mas Ngabei Prajaduta. Simaklah apa yang terungkap dalam buku tersebut, ketika Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (ISKS) Paku Buwono II memberikan sabda kepada Patih Pringgoloyo, sebelum Keraton Surakarta Hadiningrat diresmikan sebagai kerajaan baru menggantikan Kerajaan Kartasura yang telah hancur karena Geger Pacinan. "Tatanen kagungan-ingsun waringin kembar Tejadaru-Jayadaru lan apa adate nagara madeg anyar (Tatalah (tanamlah) pohon beringin kembar Tejadaru-Jayadaru milik saya, layaknya seperti negara yang baru berdiri)."
Titah ISKS Paku Buwono II kepada Patih Pringgoloyo itu menjadi bukti penanaman pohon beringin sesuatu yang wajib dan lazim dilakukan ketika ada sebuah kerajaan baru berdiri. Hal itu sekaligus membuktikan pohon tersebut memang menjadi simbol kebesaran raja. Karena itu, mungkin karena pengaruh legitimasi raja yang begitu kuat, tidak sembarang orang kemudian berani menanam pohon tersebut. Jangankan masyarakat biasa, seorang adipati seperti KGPAA Mangkunegara I sekalipun juga tidak berani karena memang tidak diperkenankan.
Hingga sekarang, masih banyak masyarakat Jawa yang mempercayai mitos seputar simbolisme tersebut. Yang terjadi kemudian, masyarakat seperti enggan menanam pohon beringin. Akibatnya, pohon yang akarnya tumbuh sampai ke dahan itu tidak dijumpai di sembarang tempat seperti pohon-pohon lain. (sumber: Wisnu Kisawa - Suara Merdeka)

3. Gapura, Bukti Pesatnya Pembangunan Keraton
TAK bisa dipungkiri, masa pemerintahan Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwono (PB) X antara tahun 1893-1939, adalah masa-masa puncak dari maraknya pembangunan fisik di Keraton Surakarta Hadiningrat.
Tak percaya? Lihatlah, sekian banyak bukti yang sampai sekarang masih bisa disaksikan, sekaligus menjadi saksi bisu tentang sejarah tersebut. Antara lain gapura yang berdiri di berbagai tempat yang ada di wilayah Kota Solo. Sebut saja Gapura Gladag, Gapura Klewer, Gapurendra (Pasar Gading), Gapura Masjid Agung, Kori Brajanala Lor, Kori Brajanala Kidul (keduanya sering disebut sebagai lawang gapit), dan masih banyak lagi gapura-gapura yang lainnya.
Dan, sedikit-banyak berbicara tentang pesatnya pembangunan fisik yang pernah terjadi pada saat keraton dipimpin Sinuhun PB X.

Jika ingin lebih jelas lagi, seorang penulis sejarah bernama RM Sajid juga menjelaskan dalam bukunya yang berjudul Babad Solo. Buku tersebut banyak mengungkap sejarah pembangunan sejumlah gapura yang terjadi antara tahun 1893-1939.
Dalam Babad Solo RM Sajid mengungkapkan, Gapura Gladag dibangun pada 1930. Gapura itu merupakan pisungsung dari orang Eropa yang tinggal di wilayah Keraton Surakarta. Sekaligus untuk kado wiyosan dalem yang genap berumur 48 tahun. "Dene pambikaipun gapura ing peken Gading nama Gapurendra, ing dinten Rebo kaping 22 juni 1938. (Adapun pembukaan gapura Gading bernama Gapurendra pada hari Rabu 22 Juni 1938)," tulisnya. Sementara itu, untuk peresmian Gapura Pasar Klewer dilakukan pada Rebo Pahing 8 Maret 1939 (17 Sura tahun 1870 Je). Sebelum itu, telah dibangun pula Gapura Masjid Agung yang kemudian diresmikan pada Selasa 25 Juni 1901 (6 Mulud tahun 1831 Dal).
Kini, keberadaan gapura tersebut menjadi jati diri tempatnya. Misalnya Gapura Gladag, yang sekarang namanya juga untuk mengabadikan tempatnya. "Ing sajumenengipun-dalem Paku Buwono kaping X, ing salebeting karaton kathah dalem ingkang kabangun enggal utawi kamulyakaken," begitu RM Sajid menandaskan. (sumber: Wisnu Kisawa - Suara Merdeka)

4. Masjid Keraton Diilhami Bangunan Masjid Demak
KERUNTUHAN Kasultanan Demak sebagai kerajaan Islam pertama, tidak berarti meruntuhkan perkembangan Islam di Tanah Jawa. Justru yang terjadi sebaliknya, penyebaran agama tersebut semakin berkembang dengan pesat. Karena itu jangan heran kalau pada zaman kerajaan-kerajaan sesudah masa Kasultanan Demak, sudah begitu banyak orang mengenal dan menganut Islam. Bahkan di kalangan bangsawan sekalipun, termasuk para raja yang menduduki takhta.
Demikian juga yang terjadi pada masa awal berdirinya Keraton Kasunanan Surakarta, sekitar abad 18. Betapa perkembangan Islam sudah sedemikian kuat merasuk dalam kehidupan para bangsawan keraton dan masyarakat. Beberapa bukti yang hingga sekarang masih ada menguatkan hal tersebut. Salah satunya adalah Masjid Agung Keraton Kasunanan Surakarta. Masjid yang berada di sebelah barat Alun-alun Lor itu merupakan masjid yang dibangun pihak keraton, sekaligus menjadi saksi pesatnya perkembangan penyebaran Islam pada masa awal berdirinya keraton saat itu.
Dalam buku berjudul Masjid Agung Keraton Kasunanan Surakarta diungkapkan, masjid itu dibangun pada masa Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan (ISKS) Paku Buwono (PB) III pada 1745. Atau dibangun 11 tahun sesudah Keraton Kasunanan Surakarta berdiri di Desa Solo.

Diungkapkan pula, rancangan arsitektur dalam pembangunannya dilihami dari bentuk bangunan Masjid Demak. Hal itu memang disengaja. Sebab perintah raja saat itu memang demikian. "Raja (PB III) sangat terkesan dengan bentuk bangunan Masjid Demak. Karena itu, saat membangun masjid, beliau menginginkan bentuk yang sama," demikian yang tertulis dalam buku tersebut.
Maka berdirilah sebuah masjid yang sama bentuknya dengan Masjid Demak. Yakni berbentuk joglo serta beratap susun tiga yang melambangkan kesempurnaan manusia (muslim) dalam menjalani kehidupannya, yakni Islam, Iman, dan Ikhsan (amal).
Selanjutnya, seiring dengan pergantian generasi raja berikutnya, Masjid Agung mengalami beberapa penambahan dan perbaikan. Di antaranya, di depan masjid dibangun serambi dan di samping dibangun pawastren (tempat jamaah putri). Bahkan pernah pada 1856 dipasang kubah yang terbuat dari emas. Namun karena ada yang jahil mencurinya sebagian, kubah tersebut terpaksa diturunkan untuk disimpan di museum. (sumber: Wisnu Kisawa - Suara Merdeka)

5. Ngigelnya Bidadari, Jadilah Tarian Bedhaya
KETIKA para dewa tengah bersantai, dipanggilah tujuh bidadari untuk mataya (menari). Maka, meliuklah Dewi Supraba, Wilutama, Warsiki, Surendra, Gagarmayang, Irim Irim, dan Tanjung Biru, sambil menyisiri tepian laut yang ada di Kahyangan Suralaya. Saat tujuh bidadari itu tengah menari, dewa kembali memerintahkan agar para bidadari mbadhaya, atau menari sambil membuat formasi berjajar. Sambil diiringi kidung (tembang) yang dilagukan para dewa, bidadari pun melakukan apa yang diperintahkan tersebut.
Itulah awal mula dari kemunculan tarian Bedhaya menurut buku berjudul Ringkesan Carita Dumadining Para Widadari Terus Dadi Pamatayaning Badhaya (Jogeding Badaya), karangan RM Sajid. Ya, itulah awal sebelum dua dewa yakni Bathara Brahma dan Bathara Indra menganjurkan agar tarian tersebut untuk upacara ritual penghormatan bagi para dewa. Iringanya pun tak lagi hanya kidung, tetapi ditambah dengan Gamelan Lokananta yang hanya ada di kahyangan tersebut.
"Gamelan lokananta punika racikanipun saking gendhing, kala, sangka, pematut, lan sauran (Gamelan Lokananta itu unsurnya terdiri atas gendhing (kemanak), kala (kenong), sangka (kethuk), pematut (kendang), dan sauran (gong)," tulis RM Sajid dalam buku tersebut. Perkembangannya tarian sakral itu terus dilestarikan oleh para raja-raja Jawa. Mulanya dilakukan di pelataran-pelataran candi, lalu merambah masuk ke istana. Hingga sekarang, tari bedhaya masih tetap ada dan masih sering dipentaskan di berbagai kesempatan.
Namun, ragam dan jenisnya menjadi bertambah dan bahkan telah mencapai belasan. Hal itu disebabkan adanya kebiasaan raja yang naik tahta selalu membuat tarian tersebut. Namun, khususnya di Solo, tercatat masih ada dua jenis tari bedhaya yang masih dianggap sakral dan wingit oleh pihak Keraton dan sebagian masyarakat Jawa. Keduanya yakni "Bedhaya Ketawang" di Keraton Kasunanan Surakarta dan "Bedhaya Anglir Mendhung" di Pura Mangkunegaran.
Dua jenis tarian tersebut sekarang difungsikan untuk acara peringatan Tingalan Jumenengan Dalem (peringatan saat raja naik tahta). "Bedhaya Ketawang" untuk memperingati saat Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan (ISKS) Paku Buwono X, naik tahta, sedangkan "Bedhaya Anglir Mendhung" untuk memperingati saat Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario (KGPAA) Mangkunegoro IX, naik tahta.
Jumlah penarinya juga tak tujuh seperti saat ditarikan para bidadari. Penari bedhaya sekarang jumlahnya sembilan orang, yang akan memerankan posisi batak, gulu, dada, endel ajeg, buncit, dan lainya yang kesemuannya mengandung makna simbolis. (sumber: Wisnu Kisawa - Suara Merdeka)

6. Radyopustoko, Saksi Bisu Lembaga Ilmu Pengetahuan di Keraton
MUSEUM yang berada di Kawasan Taman Sriwedari Solo ini, dulunya bernama Paheman Radyopustoko. Dari arti katanya, paheman berarti institusi atau lembaga, radyo adalah bangsa atau negara, sedangkan pustoko adalah pusat reverensi."Maka kalau dimaknai secara keseluruhan, kurang lebih artinya lembaga ilmu pengetahun semacam LIPI. Hanya, yang ini milik Keraton Surakarta dan sudah ada jauh sebelum kemerdekaan," tandas Mufti Rahardjo, Kurator museum tersebut, kemarin.
Menurutnya, Paheman Radyopustoko didirikan oleh KRA Sosrodiningrat IV pada 25 Oktober 1890. Sosrodiningrat adalah Pepatihdalem dari Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwono (PB) IX, Raja Keraton Surakarta Hadiningrat yang berkuasa antara tahun 1861 hingga tahun 1893.

"Awalnya Paheman Radyopustoko itu tidak di sini tempatnya, tetapi di Dalem Kepatihan yang sekarang menjadi Kantor Kejaksaan Negeri Surakarta dan sebagian lagi digunakan untuk sekolah menengah kejuruan negeri (SMKN) 8 Surakarta. Baru pada 1 Januari 1913, lembaga keraton itu dipindah ke Sriwedari," tuturnya.
Mufti mengatakan, Paheman Radyopustoko itu tidak hanya museum dan perpustakaan. Bahkan, menurut dia, museum dan perpustakaan tersebut sekadar pelengkap. Sebab, justru yang lebih penting lagi tentang kegiatan pusat studi. "Ada semacam diskusi atau sarasehan yang selalu diselenggarakan. Materi bersifat umum, mulai dari sastra, seni, sejarah, budaya hingga pengetahuan umum," ujarnya.
Ketika pindah ke Sriwedari, fungsi pusat studi itu masih berjalan dengan baik. Bahkan untuk kegiatan pusat studi tersebut, dulu disediakan dua paviliun yang terletak di sebelah barat dan timur museum. Di sebelah barat sekarang menjadi Graha Wisata, sementara disebelah timur dibangun Pujasari. Ketika masih menjadi paheman, yang mengelola adalah para abdi dalem keraton. Begitupun setelah Negara RI terbentuk, keraton masih turut terlibat. Meskipun, kemudian juga dibantu oleh yayasan (terbentuk beberapa tahun setelah kemerdekaan) dan juga pemerintah.
Namun mulai era 1960-an dan 1970-an, dengan mulai berkurangnya para pengurus paheman yang disebabkan meninggal dunia, lama-lama tinggal museum dan perpustakaan yang tersisa. Museum dan perpustakaan itulah yang masih bertahan hingga sekarang. Radyopustoko pun kemudian berubah menjadi museum umum, yang memiliki beberapa koleksi. Antara lain arkeologia seperti arca batu dan perunggu, keramika dari eropa tiongkok ataupun nusantara; tosan aji yang berupa benda-benda pusaka, naskah, nunismatika atau mata uang kuno, etnografika atau peralatan hidup zaman dulu; dan juga historika atau benda-benda sejarah (sumber: Wisnu Kisawa - Suara Merdeka).

7. Ngliga dan Kekeramatan Wilayah Keraton
MANUT tatanan Keraton Surakarta, sadaya tiyang ingkang lumebet ing keraton jaler lan estri kedah netepi pranatan rikala zaman kina. Sepenggal kalimat yang tertulis dalam Pranatan Badhe Lumebet Ing Keraton Ing Zaman Kina dari buku berjudul Babad Solo karangan RM Sajid.
Barangkali itu bukan sekadar merujuk tentang pranatan, lebih dari itu juga mengungkap tentang kekeramatan suatu wilayah.
Ya, sebagaimana yang terungkap dalam perjalanan sejarahnya (bahkan sekarang mungkin masih berlaku), keberadaan keraton memang telah ditempatkan dalam wilayah khusus bagi masyarakatnya. Peraturan dan tata cara masuk ke keraton tersebut adalah salah satu yang sedikit banyak mengungkapkan tentang hal tersebut. Menariknya, aturan itu tidak hanya merujuk pada sikap, namun juga sampai pada cara berpakaian. Mengenai hal tersebut, dalam buku itu RM Sajid mencoba menguraikan lebih lanjut tentang apa saja pranatan itu. "Pangageming utawi pangangge miturut darajad pangkatipun piyambak-piyambak." (Cara memakai busana menurut derajat pangkat dari masing-masing.)
Dengan aturan tersebut, maka bisa saja pakaian putra sentana berbeda dengan seorang bupati. Demikian pula antara bupati dengan panewu, mantri sampai lurah. Karena semuanya memiliki ciri sesuai dengan peraturannya.

Meski memiliki ciri khas yang berbeda, ada satu hal yang cukup menarik di antara perbedaan tersebut, yakni ketika semuanya harus berlaku ngliga atau bertelanjang dada (perempuan dengan memakai kemben) di setiap kali akan masuk ke dalam keraton. "Sadaya tiyang boten kepareng ngangge rasukan, kedah cucul rasukan. Wiwit para abdi dalem ingkang pangkat inggil saha para putra sentana dalem, mengandhap dumugi tiyang limrah." (Semua orang tidak boleh memakai baju, harus bertelanjang dada. Mulai dari abdi dalem yang berpangkat tinggi hingga putra sentana dalem ke bawah sampai masyarakat biasa.").
Demikianlah adanya, saat sebuah tempat telah ditempatkan dalam wilayah khusus. Ngliga boleh jadi bukan sekadar memenuhi peraturan, namun juga bisa diartikan sebagai sebuah penghormatan tentang kekhususan suatu tempat. (sumber: Wisnu Kisawa - Suara Merdeka)

8. Bengawan Solo Dahulu Bernama Bengawan Beton
JAUH sebelum Keraton Surakarta Hadiningrat berdiri, atau tepatnya pada zaman Mataram, tersebutlah sebuah dusun bernama Nusupan. Dusun itu terletak di sebelah tenggara Desa Sala, wilayah yang kemudian menjadi tempat perpindahan Keraton Kartasura.
Letak geografis dusun tersebut sangat unik. Dalam buku Babad Solo karangan RM Sajid disebutkan, ada sungai besar yang dinamakan Bengawan Beton membelah wilayah dusun itu menjadi dua bagian. Lalu di antara tepian bengawan yang membelah dusun itu terdapat sebuah bandar atau pelabuhan sungai. Pelabuhan itulah yang membuat Dusun Nusupan sangat ramai. Apalagi ketika pelabuhan itu menjadi sarana perdagangan para saudagar dari Gresik dan Surabaya yang menuju Kutha Gedhe (ibu kota Mataram). Atau sebaliknya, sebagai sarana transportasi para saudagar dari Kutha Gedhe yang ingin berdagang ke Gresik dan Surabaya. "Kawontenan makaten punika ngantos dumugi ing jaman Kartosura tuwin ngantos dumugi Surakarta. Saderengipun wonten sepur. (Keadaan seperti itu berlangsung hingga zaman Kartasura [Keraton Kartasura] serta hingga zaman Surakarta Keraton Surakarta Hadiningrat)," papar RM Sajid dalam buku tersebut.
Saat itu Desa Sala dipimpin seorang bekel bernama Kyai Gedhe Sala. Karena Dusun Nusupan termasuk wilayah Desa Sala, Kyai Gedhe Sala kemudian diberi wewenang menarik pajak terhadap orang-orang, terutama para saudagar yang setiap hari memanfaatkan pelabuhan tersebut.

Semakin lama pelabuhan itu kian ramai. Banyak saudagar yang melakukan jual beli di tempat tersebut. Selain itu, banyak pula masyarakat yang membangun rumah di sekitar tepian bengawan.
Dalam perkembangannya nama bengawan kemudian berubah. "Sasampunipun kondhang dumugi sanes nagari, nama Bengawan Beton lajeng santun nama gantos ngangge nama bebekel ngriku. Lajeng kaaran Bengawan Sala (Setelah terkenal hingga ke negara lain, nama Bengawan Beton lalu berubah nama berganti dengan nama bekel di situ. Lalu disebut Bengawan Sala [sekarang sering dilafalkan orang dengan Bengawan Solo])," jelas RM Sajid.
Itulah sekelumit sejarah tentang nama Bengawan Solo, sungai besar yang sekarang menjadi trademark Kota Solo. (sumber: Wisnu Kisawa - Suara Merdeka)

9. Prangwedanan, Kisah Pingitan sebelum Pangeran Naik Tahta
RUMAH tua yang berada di sisi timur Pura Mangkunegaran (dekat pintu masuk sebelah timur) itu tampak sepi. Hanya ada beberapa foto para bangsawan tergantung di dinding dan seperangkat gamelan di lantai pendapa. Selebihnya, selain beberapa tukang becak yang tengah mangkal di depan halaman, hampir tak terlihat aktivitas di tempat tersebut.
Berkesan sunyi memang situasi di Prangwedanan, salah satu bagian dari kawasan Pura Mangkunegaran, saat ini. Namun siapa sangka, meski kini lebih sering terlihat sepi, tempat tersebut telah menyimpan kisah sejarah panjang tentang para pemimpin Pura Mangkunegaran. Demikianlah, Prangwedanan adalah saksi bisu dari kehidupan para pangeran sebelum naik tahta di istana tersebut. Hal itu seperti yang terungkap dalam buku Babad KGPAA Prangwadana VII yang dikarang oleh Mulyohutomo pada 1983.

Menurut buku tersebut, rumah dengan arsitektur Jawa itu dulu menjadi tempat tinggal para pangeran yang akan menduduki tahta adipati di Pura Mangkunegaran. Biasanya pangeran yang sudah tinggal di tempat tersebut akan bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aria (KGPAA) Prangwadana. Itulah mengapa kemudian rumah itu disebut dengan Prangwedanan, karena nama suatu tempat memang berkaitan dengan bangsawan yang menempatinya.
Seperti yang dijelaskan oleh Mulyohutomo dalam bukunya, tradisi para putra mahkota tinggal di Prangwedanan itu sudah mulai dilakukan semenjak ratusan lalu, termasuk pada masa-masa kelahiran negara RI, yakni pada zamannya KGPAA Mangkunagoro VII (1916-1944).
Lantas mengapa putra mahkota itu harus tinggal di rumah tersebut? Menurut sejarah, hal itu berkaitan dengan persiapan pangeran sebelum dikukuhkan untuk naik tahta. Di tempat itulah calon adipati pura itu dipingit untuk kemudian digembleng menjadi seorang pemimpin.
Namun kini, kisah pingitan itu tinggal kenangan. Sebab dalam perkembangannya kemudian, terjadi pergeseran fungsi rumah tersebut, terutama semenjak lunturnya otoritas Pura Mangkunegaran bersamaan dengan terbentuknya Negara Republik Indonesia (1945). Seperti dikatakan RT Soenarso Ponco Sucitro, Bupati Anom Mandrapura, Prangwedanan mulai saat itu sudah tak lagi menjadi tempat tinggal para bangsawan. Bahkan sekarang sudah menjadi area publik, baik bagi masyarakat dari dalam maupun dari luar pura. (sumber: Wisnu Kisawa - Suara Merdeka)

10. Riwayat Kehancuran Taman Sriwedari Solo
KOTA Solo dalam konsep budaya Jawa tradisional adalah sebuah negara gung yang berpusat di Keraton Surakarta. Sebentuk negara agung warisan dinasti Mataram dengan fasilitas perkotaan serba lengkap bagi kepentingan raja dan keluarganya.
Salah satu peninggalan Sunan Paku Buwono (PB) X adalah sebuah taman rekreasi keluarga raja yang diberi nama Taman Sriwedari. Nama yang diambil dari legenda pewayangan dalam kisah Sumantri Ngenger.
TAMAN Sriwedari adalah nama yang digunakan masyarakat umum terutama dari luar Kota Solo. Sedangkan orang-orang pedesaan di sekotar Kota Solo, lebih mengenal Taman Sriwedari dengan sebutan Kebon Rojo dan sering dilafalkan Bonrojo. Sebuah taman rekreasi yang dibangun Sunan PB X dan menjadi ikon Kota Solo di masa lampau.
Para pengunjung Kota Solo terutama yang datang dari pedesaan, merasa tidak lengkap sebelum singgah ke Taman Sriwedari alias Bonrojo. Wayang orang dan gajah Kiai Anggoro yang disakralkan begitu populer di mata masyarakat. Hampir setiap malam, panggung wayang orang tak pernah sepi penonton, bahkan banyak yang rela bergelantungan di kawat dinding gedung pertunjukan.

Sedangkan gajah Kiai Anggoro yang merupakan klangenan (kegemaran) Sunan PB, sangat digemari anak-anak. Di antara anak-anak yang menderita sakit, ada orang tua yang bernadar untuk membawa anaknya menonton gajah setelah sembuh. Di kandang gajah itu, para orang tua mencolek kotoran gajah dan mengoleskannya ke dahi si bocah sebagai pemenuhan nadar.
Memudarnya pamor Keraton Surakarta yang kini tinggal menjadi semacam simbol budaya dan tradisi bagi masyarakat Solo, juga diikuti meredupnya popularitas Taman Sriwedari. Masa kejayaan Bonrojo yang identik dengan kebun binatang, pertunjukan wayang wong, ketoprak, bioskop, pentas musik keroncong dan lain-lain, mengalami keruntuhan setelah satu persatu isi taman itu tersingkir.
Berpindahnya kebun binatang dengan maskot gajah Kiai Anggoro ke Taman Jurug, merupakan awal kehancuran Taman Sriwedari. Orang-orang desa yang dahulu kala selalu ke Bonrojo untuk menonton gajah yang disakralkan, akhirnya tak ada lagi yang menginjakkan kaki ke Taman Sriwedari. (Sumber: Tok Suwarto - Pikiran Rakyat)

11. Pasar Gede, Pasar Bertingkat Pertama Di Indonesia
MENURUT RM Sajid dalam buku berjudul Babad Sala, meski di Kota Solo banyak terdapat pasar, tak ada yang menyamai pasar itu. Begitulah Pasar Gede Solo, yang sampai sekarang masih tetap tumbuh dan berkembang sebagai salah satu pasar tradisional.
Boleh jadi, apa yang dikemukakan oleh penulis buku tersebut bukanlah sekadar membesar-besarkan. Setidaknya, ada beberapa hal yang menengarainya. Yaitu di antaranya, sejarah pada awal-awal 1900-an Masehi yang telah turut mengiringi perjalanan itu.
"Kajawi kathah griya los-losanipun ingkang ageng-ageng, pasaripun lumintu saben dinten boten wonten gothangipun. Bibaripun tiyang sesadeyan kirang langkung jam gangsal sonten. (Selain banyak ruko-ruko yang besar-besar, pasarnya setiap hari selalu ramai. Selesainya orang berdagang, kurang lebih pukul 17.00)," papar RM Sajid dalam buku tersebut.
Itulah, di antara beberapa tengara yang sesuai dengan namanya, kemudian membuat Pasar Gede benar-benar menjadi besar. Bandingkan dengan pasar lain, yang tingkat keramainnya dipengaruhi oleh hari pasaran. Misalnya Pasar Legi, Pasar Kliwon, dan Pasar Pon.
Di sisi lain, yang juga menjadi bukti tentang kebesaran pasar tersebut, adalah dengan sudah diberlakukannya sistem jual dan sewa terhadap ruko maupun tempat lain untuk berjualan. Sebuah sistem yang menurut penulis masih belum umum pada saat itu.
Ada sebuah fenomena lagi, yang kemudian semakin mengukukuhkan keberadaan Pasar Gede Solo. Itu terjadi pada 1927, saat Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwono (PB) X merehab bangunan pasarnya.

Ya, karena dengan pembangunan ulang itulah, muncul sejarah pasar tradisional yang bukan hanya untuk tataran wilayah Kota Solo, namun seluruh Indonesia. Betapa tidak, jika dengan pembangunan ulang tersebut, pasar itu kemudian menjadi pasar pertama bertingkat di Indonesia. "Nalika 1927, Pasar Gedhe wau dipun dandosi sae kanti waragat ingkang boten sekedhik, inggih punika 300 ewu gulden. Lajeng dados peken sepisanan ingkang tumpuk kalih. (Pada 1927, Pasar Gede itu dibangun ulang dengan biaya yang tidak sedikit, yakni 300 ribu gulden," tandasnya.
Demikianlah, di antaranya, sejarah yang mengiringi Pasar Gede. Kini, pasar tersebut masih tetap tumbuh dan berkembang. Meski pada 1998 pernah dilalap api, dua tahun kemudian pasar itu kembali dibangun dengan tetap mempertahankan bentuk arsitektur aslinya. (sumber: Wisnu Kisawa - Suara Merdeka)

12. Solo, Kota Jajan Yang Tak Pernah Tidur
APA yang ada di benak Anda, ketika melewati Jl Dokter Moewardi di kawasan Kota Barat Solo di waktu malam? Di antara berbagai aktivitas yang mewarnai kehidupannya, tentu saja yang paling menyita perhatian adalah banyaknya warung makan di sepanjang jalan tersebut. Bagai memiliki dua rupa, antara siang dan malam, kawasan tersebut memang terlihat sungguh berbeda. Sisi-sisi jalan yang biasanya terlihat sepi di waktu siang, akan berubah menjadi padat ketika datang malam sebab dipenuhi dengan berbagai jenis warung makan.
Pemandangan yang terjadi di Kota Barat tersebut, hanyalah sebagian di antara maraknya pusat jajan di Kota Bengawan. Sebab, masih banyak kawasan lain yang juga memiliki kondisi serupa di waktu malam. Sebut saja kawasan Jalan Slamet Riyadi, Adi Sucipto, dan Piere Tendean.
Begitulah, memang. Selain dikenal dengan predikatnya sebagai Kota Budaya, Solo sebenarnya juga bisa disebut sebagai "kota jajan". Bahkan, dalam kaitannya dengan sebutan tersebut, kehidupan di kota Solo hampir tak mengenal batas waktu: siang maupun malam.
Lihat saja, ketika ada sejumlah warung makan yang justru mulai buka pada dini hari. Misalnya Gudeg Ceker Bu Kasno, Margoyudan, yang berada di kawasan Jalan Wolter Monginsidi. Warung makan yang cukup terkenal hingga keluar daerah itu, malah mulai buka dini hari sekitar pukul 02.00.
Dengan kondisi seperti itu, tak mengherankan jika berkait dengan "kota jajan" tersebut Solo berkesan seperti tak pernah tidur. Tak peduli siang atau malam, yang namanya warung makan akan selalu silih berganti hadir mewarnai kehidupan kotanya.
Menariknya, kesemarakan warung makan di berbagai tempat tersebut bukan hanya sekadar memanjakan masyarakat, namun juga menjadi semacam ciri khas Kota Solo. Ya, ciri khas sebagai "kota jajan" yang tak pernah tidur. Selain soal rasa, hal lain yang membuat orang selalu tertarik datang ke Kota Budaya itu adalah banyaknya pilihan jenis warung makan.
Mulai dari makanan tradisional seperti gudhangan dan trancam, hingga makanan modern semacam hamburger pun ada. Mulai dari makanan berat dengan menggunakan nasi, sampai hanya sekadar warung wedangan juga ada. Menariknya lagi, itu bisa didapatkan di sembarang tempat. Di Solo, memang banyak jenis makanan yang bisa menjadi alternatif ketika perut sedang lapar. Tinggal pilih saja, mana warung yang dikehendaki. Kapan saja waktunya, bisa: mau siang atau malam. (Dari berbagai sumber)
Read More......

Wisata Kuliner di Kota Solo #1

Dari segi daerah pariwisata, boleh jadi Solo kurang dikenal. Tetapi, toh, orang yang datang mengunjungi kota Bengawan ini tidak sedikit jumlahnya. Sebagian datang untuk mencari batik, sebagian untuk berdagang dan sebagian lain untuk menikmati jajanannya yang aduhai lezatnya. Enaknya pula jenis makanan di kota ini luar biasa banyaknya. Hingga sering membuat kita lupa diri. Jangan kaget bila baru tinggal 3 hari saja di Solo, bobot tubuh Anda sudah naik 3 kilogram pula.

Di Solo hanya ada dua kategori makanan, yaitu 'Enak' dan 'Enak Tenan'. Di kota ini bukan masalah pedagang mencari pembeli, namun pembeli yang mencari pedagang. Yup, they are that good. So kendurkan ikat pinggang anda dan mulailah wisata kuliner anda di Kota Bengawan.

Berikut ini tempat-tempat makanan dan makanan-makanan yang harus anda coba ketika ke Solo.

1. Nasi Liwet
Nasi Liwet mungkin adalah makanan khas Kota Solo yang paling terkenal, yang ketenarannya telah menyebar ke segala penjuru, dan sudah masuk menjadi menu di hotel-hotel berbintang di kota-kota besar di Indonesia.

Di Solo sendiri Nasi Liwet sudah sangat membumi, hingga setiap saat dan hampir dimanapun, anda akan dapat menemukan Nasi Liwet dengan mudah. Mulai dari Nasi Liwet yang paling terkenal di Solo, Nasi Liwet Wongso Lemu yang berlokasi di Keprabon (Jalan Teuku Umar) dan Nasi Liwet Yu Sani yang berlokasi di kawasan Solo Baru yang berjualan di malam hari hingga para mBakyu yang berjualan di pagi hari dengan berkeliling diperumahan.

Pada dasarnya Nasi liwet adalah beras yang dimasak dengan santan dan kaldu ayam sehingga hasil akhirnya membuat nasi terasa gurih, beraroma dan lezat. Kemudian, nasi tersebut dicampur dengan sayuran jipang (labu siam) yang dimasak pedas, telur pindang rebus, daging ayam yang disuwir, kumut (terbuat dari kuah santan yang dikentalkan). Sering juga ditambah dengan usus ayam, hati/ampela yang direbus, bacem tahu tempe atau rambak kulit sapi sebagai pelengkap. Penyajiannya pun tidak menggunakan piring, tetapi dengan daun pisang yang dipincuk.

Uenak tenan!

2. Timlo
Timlo bukan Kimlo adalah salah satu makanan khas di Kota Solo. Berbeda dengan makanan sejenis yang dimiliki daerah lain, Timlo Solo tidak mempergunakan soun dan jamur merang.

Untuk menikmati rasa Timlo yang khas Solo, anda harus datang ke Timlo Sastro di daerah Balong Pasar Gede atau di cabangnya di Pasar m'Beling dan Timlo Solo di Jl. Urip Sumoharjo. Tempat ini benar-benar jagonya timlo. Timlo Solo adalah hidangan berkuah bening yang berisi 'sosis' daging ayam yang dipotong-potong, potongan telur pindang, hati dan ampela ayam.

Timlo Sastro mempunyai cara menghitung pesanan yang unik, pesanan tidak dicatat di atas kertas, melainkan ditulis di atas papan tulis kecil (Sabak) dan baru kemudian harganya dijumlah. Semangkuk Timlo komplit dapat dinikmati hanya dengan mengeluarkan uang Rp 9.000 ,-

Semangkuk Timlo panas, dimakan bersama nasi putih yang ditaburi bawang goreng dan ditemani segelas es jeruk pasti akan membuat anda ingin kembali berulang kali.

3. Sate Buntel
adalah sate kambing khas Kota Solo yang lain dari pada yang lain, pokoknya one of a kind lah. Sate Buntel adalah sate yang terbuat dari daging kambing yang dicincang, diberi bumbu bawang dan merica dan kemudian di-buntel (dibungkus) dengan lemak kambing. Sate kambing saja sudah enak, apalagi kalau daging kambingnya dicincang dan dibungkus dengan lemak sebelum dibakar hingga matang di atas bara dan dimakan bersama saus kecap, irisan cabe rawit yang diuleg kasar, bawang merah, irisan kol dan tomat. Lebih nikmat lagi dinikmati bersama acar ketimun...Hm ... Mak Nyos!

Salah satu warung makan penyedia Sate Buntel yang paling terkenal dan paling most wanted di Solo adalah warung Sate Kambing Tambak Segaran, Jalan Sutan Syahrir No 39 (Widuran) yang telah berjualan sejak tahun 1948. Kesuksesan warung sate ini mendorong munculnya banyak warung sate buntel lainnya.

Jika anda penggemar wisata kuliner dan sedang memesan satu porsi sate buntel, perlu diketahui bahwa satu porsi sate buntel tidak berisi 10 tusuk sate seperti sate biasanya. Kenapa? karena ukuran sate buntel ini besar dan satu porsi sate biasanya sudah cukup banyak untuk dimakan berdua. Tetapi ada baiknya anda pastikan dulu besar satenya sebelum memesan, agar tidak kelebihan ataupun kekurangan.

Selain sate buntel yang mak nyos tadi, di warung sate Tambak Segaran sangat direkomendasikan untuk mencoba sate kikil kambing yang dijamin empuk dan akan membuat anda ketagihan dan juga Gule Sumsum yang nikmat, bayangkan betapa nikmat menghirup kuah gule sembari menyedot sumsum dari tulang.

4. Babi Pincuk
Jika anda wisatawan non Muslim, Kota Solo juga mempunyai makanan khas yang berbahan dasar B2 (Babi), salah satunya adalah Babi Pincuk.

Penjual Babi Pincuk dapat dijumpai di sekitar Pasar Gede. Mereka berjualan bukan dengan tenda darurat ataupun bangunan permanen, melainkan mempergunakan pikulan sederhana. Dan mereka umumnya berjualan hanya disiang hari.

Babi Pincuk, sesuai dengan namanya, disajikan hanya dengan pincuk dari daun pisang, yang dibuat oleh penjualnya hanya dalam waktu 10 detik saja. Tidak dimakan dengan nasi, Babi Pincuk berisi daging dan jeroan babi yang dipotong kecil-kecil dan disiram dengan kuah kecap yang manis dan sambal.

5. Pecel n'Deso
Jika anda datang ke Solo dan ingin menikmati sarapan yang khas dengan suasana yang benar-benar suasana rumah wong Solo, maka anda harus datang ke warung makan Waroeng Tempo Doeloe Pecel Solo. Nama warungnya terdengar sudah jamak, tapi suasana eksotik etnis Jawa pada masa lalu bisa langsung anda rasakan ketika kaki anda baru melangkah ke teras warung yang terletak di Jalan Dr Supomo No 55, Pasar m'Beling, Solo ini.

Kentongan kayu, klontongan sapi digelantungkan di atas pintu masuk. Saat mata memandang ke dalam, gebyok yang usianya sudah ratusan tahun menyedot perhatian. Dua tiang dari kayu glondongan berdiri gagah di antara bangku-bangku panjang yang sama kunonya.

Suasana yang ada di warung tersebut akan membuat anda sejenak melupakan rasa lapar anda. Seperti yang saya rasakan, saya memilih melihat-lihat, mengelilingi ruangan yang luasnya tidak lebih dari 100 meter persegi itu. Mengamati enam meja yang berwarna coklat tua, dinding yang penuh dengan gantungan foto hitam putih asli yang menampilkan potret kehidupan Kota Solo masa lalu.

Sesuai namanya, warung itu memang menyajikan suasana tempo dulu. Setiap detailnya adalah masa lalu, termasuk asesoris yang tak ada hubungannya dengan makanan. Ada tiga mesin jahit tua The Singer nomer seri 204174 buatan Belanda awal tahun 1900-an. Ada pula timbangan bertuliskan SalterÆs Trade-British Made yang uniknya menerapkan kekuatan maksimum timbangan dalam bahasa Belanda, yakni Weegvermogen 10 Kg. Tak hanya itu, tatkala tangan anda ingin merogoh makanan kecil seperti rempeyek, karak, atau kerupuk udang yang disajikan dalam stoples anda akan menemui tulisan Herm Heye-Hamburg-Germany di bagian tutup stoplesnya. Sebuah merk perabot rumah tangga jaman bahula. Hanya itu? Masih ada lagi botol-botol dari tanah liat Erven Lucas het Lootsje-Amsterdam yang berisi beras kencur, temu lawak, dan gula asem siap saji. Dan masih banyak lagi asesoris yang mungkin tidak bisa dijumpai di museum termasuk gramaphon alias piringan hitam.

Kembali ke Pecel n'Deso. Pecel n'Deso yang dimaksud adalah nasi pecel yang nasinya berasal dari beras merah, jenis beras yang kini sulit didapat. Pecelnya, berisikan dedaunan dan tanaman mulai dari jantung pisang, nikir, daun petai cina, bunga turi dan kacang panjang. Sambalnya ada dua pilihan, sambal kacang seperti pecel pada umumnya atau sambal wijen yang memiliki dua pilihan, wijen putih atau hitam. Lauk yang bisa anda pilih disini ada: belut goreng, wader pari yang digoreng tanpa tepung, telur ceplok, sosis solo, bongko (kacang merah dan kelapa), gembrot (kelapa dan daun simbukan), otak dan iso goreng.

Sayup suara dua perempuan berpakaian kebaya yang duduk bersimpuh di teras warung tengah melantunkan tembang Jawa Cokekan dengan diiringi Siter yang dimainkan seorang lelaki membuat suasana Jawa tempo dulu makin terasa dan membuat enggan untuk meninggalkan tempat itu.

6. Cabuk Rambak
Namanya cukup aneh, Cabuk Rambak. Jenis makanan dengan menu utama ketupat ini sangat khas Solo. Istilah khas untuk ketupatnya adalah Gendar Janur, sebab beras yang ditanak untuk dijadikan gendar berada di dalam anyaman janur.
Pada hari-hari biasa, para pedagang cabuk rambak menjajakannya secara berkeliling kampung, tapi saat perayaan Sekaten mereka bisa dijumpai tersebar di halaman Masjid Agung Keraton dalam jumlah puluhan.
Apa sih beda Cabuk Rambak dari ketupat daerah lain? Bisa jadi itu terletak pada bumbu ketupatnya. Ketupat dengan sayur bersantan atau yang dicampur dengan sate ayam barangkali telah umum di beberapa tempat. Tapi, bumbu cabuk rambak itu berbeda. Yakni, wijen yang digoreng bersama santan kelapa, cabai, bawang putih, kemiri, dan gula merah. Itu pula yang menjadi ciri khas penganan itu. Soal cita rasa bumbu seperti itu bagaimana? Tak diragukan lagi. Orang dari wilayah Surakarta sebagian besar menyebutnya bumbu istimewa. Pada tataran yang lebih luas, bumbu serupa itu pula yang menyebabkan banyak orang merasa kangen untuk kembali menikmati, karena ada nilai eksotis atau semacam kelangenan.
Bukan itu saja yang membuat makanan ini jadi istimewa. Karak, sejenis kerupuk dari bahan beras yang menjadi 'suplemen' penganan ini, menjanjikan kenikmatan tersendiri bagi pengudapnya. Orang se-eks Karesidenan Surakarta menyebut rambak untuk penganan yang di beberapa tempat lain disebut kerupuk. Maka, kata rambak pada nama penganan itu memang berasal dari karak yang melengkapi cabuk rambak. Oh ya, untuk menikmatinya kita tidak mempergunakan sendok atau garpu, melainkan mempergunakan lidi.

7. Tengkleng
Kalau anda main ke kota Solo, jangan lupa cicipi Tengkleng asli Solo. Apa sih Tengkleng itu? Gule kambing adalah contoh yang paling dekat untuk menggambarkan cita-rasa Tengkleng bagi mereka yang belum pernah menikmatinya. Yang membedakan tentu saja adalah rasa dan kuahnya. Kuah Gule menggunakan santan kelapa, sementara Tengkleng tidak memakai santan. Jadi lumayan, sumber kolesterolnya berkurang satu!
Selain itu isi Tengkleng adalah tulang-belulang kambing dengan sedikit daging yang menempel. Sebagai lauk pelengkap, diberi sate daging, sate usus, sate jeroan, otak dan bagian organ kambing lainnya yang ikut digulai bersama tulang-tulang, seperti mata, pipi, kuping, dan kandungan (klepon).

Kenikmatan makan Tengkleng akan terasa ketika kita menggerogoti sedikit daging yang tersisa dari tulangnya atau mengisap-isap isi sumsum tulang.
Tertarik? Datang saja ke Pasar Klewer, di sana ada Ibu Ediyem yang berjualan di lapaknya yang sederhana di samping Gapura Pasar Klewer atau ke warung tengkleng Yu Tentrem di Jl. Letjen Sutoyo, Bibis. Biasanya pembeli duduk di atas bangku kayu berdesak-desakan lalu makan dengan lahap menikmati nasi tengkleng yang disajikan. Karena rasanya yang khas, masakan tengklengnya Ibu Ediyem maupun Yu Tentrem sering dipesan pejabat yang mengadakan acara kantor maupun keluarga.

8. Sate Kere
Satu lagi yang wajib dicoba dan lagi-lagi khas Kota Solo (walaupun daerah lain saat ini ada yang mempunyai makanan dengan nama yang sama dengan konten yang berbeda) adalah Sate Kere.
Seperti halnya soto, hidangan sate sebenarnya bukan makanan khas Solo. Tapi untuk sate enak yang satu ini memang khas Solo. Wajib hukumnya bagi anda untuk mampiri ke warung Sate Kere saat ke Solo. Salah satu warung Sate Kere yang terkenal adalah Warung Yu Rebi di daerah Penumping dekat Stadion Sriwedari (yang ini harganya jauh dari kere) atau di depan TK Marsudirini (hanya ada pagi sampai siang, yang ini harganya lebih murah).
Kenapa disebut Sate Kere? Karena di warung Sate Kere anda akan dapat menjumpai sate tempe gembus (tempe yang dibuat dari ampas kedele sisa pembuatan tahu), disamping daging dan jeroan sapi. Namun, biasanya tempe gembus-nya lebih dominan. Karena itu, makanan tersebut kemudian disebut sate kere (satenya orang miskin). Jadi bagi orang yang mengidap penyakit darah tinggi, tak usah menghindar warung ini. Asalkan anda tidak memesan sate jeroan seperti paru, limpa, hati, iso, torpedo, ginjal, babat, iso daging sapi.
Bumbu perendam tempe embus sama dengan bumbu rendaman bahan jeroan. Sedangkan bumbu untuk menyantapnya adalah sambal kacang, dengan kacang yang tidak begitu banyak sehingga terasa lebih ringan. Dalam sehari warung sate Yu Rebi mampu menghabiskan 30 sampai 50 kg daging dan jeroan. Tak heran, karena pelanggannya bukan berasal dari Solo saja, melainkan dari kota-kota sekitar Solo.

9. Gudeg Ceker
Pengalaman wisata kuliner di Gudeg Ceker Bu Kusno Margoyudan di Jl. Wolter Monginsidi, Solo benar-benar pengalaman one of a kind. Bukan hanya karena jam bukanya yang ajaib (Gudeg ini baru buka jam 02:00 dini hari), tapi juga dari banyak dan beraneka ragamnya pembeli mulai dari bapak-bapak penarik becak, hingga pejabat dan wisatawan dari daerah lain. Mereka semua tidak berebutan dan marah-marah minta dilayani. Benar-benar pengalaman yang unik, seakan semua orang paham apa yang mereka inginkan sehingga bersikap baik untuk mendapatkannya. Semua itu terjadi hanya untuk satu alasan: Gudeg Ceker.
Di tempat ini, ceker (kaki ayam) menjadi side dish yang dihidangkan bersama dengan gudeg. Ceker dimasak secara gudeg kering dan biasanya setiap pengunjung bisa menghabiskan 10 hingga 20 ceker sekali makan. Jangan heran, ceker yang disajikan disini lunak dan lezat.
Selain dimakan bersama dengan nasi gudeg, pengunjung bisa juga memesan ceker sebagai side dish dari bubur. Nah kalau dimakan dengan bubur, maka akan lebih nikmat kalau disiram dengan kuah sambal goreng krecek. Cocok sekali untuk sarapan dipukul 04:00 pagi!
Sumpah ... ajiiiiib!

10. Selat Solo
Kebanyakan orang Solo lebih menyukai menyantap sesuatu yang berkuah sebagaimana kebiasaan mereka sehari-hari makan masakan berkuah. Salah satu bentuk percampuran masakan berkuah asal Barat dengan selera lidah lokal dan menjadi makanan khas di Kota Solo adalah Selat Segar Solo. Makanan ini sering dijadikan hidangan pada saat kondangan, tidak hanya di Solo tapi juga sampai di kota-kota lain.
Racikan Selat solo yang juga merupakan adaptasi dari salad terdiri dari daging yang diiris tipis, ditambah rebusan buncis, kentang, wortel, telur rebus, dan mayones, kemudian disiram kuah kecap encer.
Warung atau rumah makan yang paling direkomendasikan ketika anda ingin mencicipi Selat Solo adalah Warung Selat m'Bak Lies di Serengan dan Rumah Makan Kusuma Sari di Jalan Slamet Riyadi.

11. Tahu Kupat
Ketika pertama kali mencoba makanan khas Solo yang satu ini, anda mungkin akan teringat dengan Tahu Gimbal, makanan khas Semarangan. Ya, kedua makanan ini memang mirip.
Satu porsi makanan khas ini terdiri dari ketupat, mi basah, taoge, tahu goreng, bakwan gimbal yang dipotong-potong dan kacang goreng yang disiram dengan bumbu kecap manis encer dengan rasa bawang yang cukup terasa. Disamping campuran standard di atas, anda dapat juga menambahkan isi tahu kupat anda dengan telur dadar.
Warung tahu kupat yang terkenal dan ramai dikunjungi di Solo dapat anda jumpai di Jl. Gajah Mada no 95 (di depan Masjid Solihin) atau di depan Pasar Kadipolo.

12. Bakmi Toprak
Nama makanan khas Solo satu ini mungkin akan mengingatkan anda dengan Ketoprak yang ada di Jakarta, tapi setelah dihidangkan ternyata jauh sekali perbedaanya. Jika Ketoprak versi Jakarta menggunakan sambal kacang, Toprak Solo berkuah bening.
Sebagai salah satu makanan khas Solo. Jajanan enak ini banyak ditemui di pelosok kota Bengawan. Tapi jangan bilang sudah mencicipi Mi Toprak kalau belum mampir ke Warung Toprak Kartopuran di Jl. Kartopuran.
Jam 11 siang warung Mi Toprak Kartopuran baru melayani pembeli. Biar begitu setengah jam sebelumnya pembeli sudah mulai antre.
Komposisi Mi Toprak terdiri dari mi kuning, potongan kol, tahu goreng, telur, tempe goreng, dan sosis solo. Lalu disiram dengan kuah kaldu dan irisan tetelan daging sapi, serta taburan bawang goreng plus seledri. Untuk pelengkap, kita bisa menambah karak (kerupuk nasi). Rasanya pas dimakan di waktu brunch karena tidak terlalu mengenyangkan, tapi cukup mengganjal perut sambil menunggu makan siang.

13. Soto Gading
Walau bukan makanan khas dari Solo, tapi banyak warung soto di Solo yang dikenal enak oleh para penikmat kuliner. Selain soto ayam, ada pula soto sapi.
Salah satu warung soto yang terkenal dan direkomendasikan adalah Soto Gading (baca Nggading) yang terletak di Jl. Brigjen Sudiarjo, Gading, sekitar 200 meter arah selatan dari Gapura Gading.
Soto disini disajikan langsung bersama nasi putih dalam satu mangkuk. Kalau soto saja tidak cukup, Anda dapat menambahkan salah satu lauk pauk yang disajikan tersendiri di meja-meja pengunjung. Lauk pauk di sini komplit banget, ada empal, otak goreng, sate puyuh, perkedel kentang atau jagung, tempe goreng kering, bakwan, tahu goreng, sosis solo atau garang asem.
Biarpun pengunjung ditempat ini sangat banyak, tapi anda tidak akan dibiarkan menunggu pesanan terlalu lama. Pelayannya gesit-gesit. Setiap pesanan selalu disertai teriakan dalam bahasa Jawa halus.
14. Sambel Tumpang
Satu lagi makanan khas dari Solo yang langka dan sekarang makin sukar ditemui, namanya nasi Sambel Tumpang.

Sesuai dengan namanya nasi ini terdiri dari nasi putih yang ditumpangi aneka sayuran rebus seperti bayam, taoge, dan kacang panjang lalu disiram dengan kuah kental. Kuah kental ini dibuat dari campuran santan dan tempe semangit yang dihaluskan. Biasanya di dalam kuah kental tumpang ini ada tahu putih, telor rebus dan krecek. Sajian khas Solo ini paling enak dinikmati untuk sarapan. Maka, penjual nasi tumpang di pasar-pasar tradisional biasanya ada pada pagi hari saja.

Selain ditemukan di pasar tradisional, penjual nasi tumpang masih bisa dijumpai di sekitar Lapangan Manahan. Apalagi di hari Minggu saat banyak orang berolahraga pagi, jajanan Nasi sambel Tumpang dijadikan salah satu pilihan sarapan. Selain dinikmati dengan nasi putih, Sambel Tumpang sama enaknya kalau disiramkan di atas bubur nasi yang masih panas. Nah, yang ini namanya menjadi Bubur Tumpang.

15. Gul-Gor (Gule Goreng)
Di Kota Solo ada cara lain untuk menikmati gule kambing, selain dibuat tongseng, di Solo ada yang namanya Gul-Gor (Gule Goreng). Ya, gule kambing yang berkuah santan kental, dimasak di atas anglo arang sampai kering. Anda bisa bayangkan betapa empuknya daging dan jeroan yang telah dimasak sampai kering tersebut. Menikmati Gul Gor, dengan nasi panas, kol, tomat dan bawang merah pasti akan membuat anda ketagihan.

Ingin menikmati makanan satu ini, datang saja ke Jl. Diponegoro di sebelah eks gedung bioskop Deddy Theatre didekat pasar antik Triwindu.

bersambung ..........................
Read More......