Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan

03 April 2009

Komplek Makam Astana Giri Bangun

Kondisi kesehatan mantan Presiden Soeharto yang masih kritis masih menjadi perhatian banyak orang. Astana Giri Bangun, komplek makam yang dipersiapkan sebagai makam keluarga besar Soeharto, pun mendapat perhatian. Berikut ini makam Astana Giri Bangun yang termuat dalam Suara Merdeka 14/1/2007.
Kompleks makam Astana Giribangun di lereng barat Gunung Lawu, tepatnya di Desa Karangbangun, Matesih, Karanganyar sangat megah dan luas. Makam di atas sebuah bukit itu dibangun tepat di bawah Astana Mangadeg, kompleks pemakaman para penguasa Pura Mangkunegaran Surakarta. Jika Astana Mangadeg berada di ketinggian 750 meter di atas permukaan laut (dpl), Giribangun pada 666 meter dpl. Bukan tanpa alasan kenapa lokasi kedua kompleks makam itu bersebelahan, mengingat Ibu Tien Soeharto selama ini mengaku keturunan Mangkunegoro III.

''Ada jalan atau lorong tembus yang menghubungkan kedua kompleks Bahkan Giribangun disebut sebagai makam yang dikhususkan untuk keluarga Mangkunegaran yang makam itu. Lorong itu hanya boleh dilewati orang-orang tertentu dan hari-hari tertentu pula,'' kata salah seorang pekerja makam.

Kendati kompleks makam sudah mulai dibangun 1974, baru diresmikan penggunaannya pada 1976. Peresmian ditandai dengan pemindahan abu jenazah Soemaharjomo (ayahanda Tien Soeharto) dan Siti Hartini Oudang (kakak tertua Ibu Tien).

Kompleks makam Astana Giribangun terdiri dari tiga bagian. Yakni Cungkup Argosari, Cungkup Argokembang, dan Cungkup Argotuwuh. Cungkup Argosari seluas 81 meter persegi merupakan Bangunan utama dan berada di dalam ruangan tengah. Bangunannya dilindungi cungkup rumah bentuk joglo beratap sirap dengan dinding rumah dari kayu berukir.

Di ruang tersebut direncanakan hanya untuk makam lima badan. Untuk posisi sekarang ini, makam Ibu Tien Suharto berada paling timur. Tepat di sebelahnya terdapat tempat "cadangan", kelak diperuntukkan bagi Pak Harto, kalau sudah meninggal. Di tengah terdapat makam pasangan Soemarharjomo (ayah dan ibu Tien) dan paling barat adalah makam Siti Hartinah. ''Tempat bagi Pak Harto sudah dilubangi dengan ukurannya. Untuk sementara tempat cadangan itu ditutup tanah. Nanti kalau mau dipakai, tanahnya tinggal diangkat lagi,'' ujar Sukirno.

Di Cungkup Argosari juga terdapat emperan seluas 243 meter persegi. Emperan itu direncanakan untuk makam 12 badan. Rencananya untuk anak-anak dan para menantu Soeharto. Selain emperan, ada pula selasar cungkup seluas 405 meter persegi. Selasar itu terdapat areal untuk 48 badan. Selasar ini untuk makam penasihat, pengurus harian serta anggota pengurus Yayasan Mangadeg yang mengelola pemakaman itu.

Selanjutnya adalah Cungkup Argokembang. Cungkup yang berada di bagian luar lokasi utama seluas 567 meter persegi itu tersedia tempat bagi 116 badan.

Di lokasi itu untuk makam para pengurus pleno dan seksi Yayasan Mangadeg ataupun keluarga besar Mangkunegaran lainnya yang dianggap berjasa kepada yayasan dan mengajukan permohonan untuk dimakamkan di tempat itu.

Terakhir adalah Cungkup Argotuwuh. Lokasinya berada paling luar dan luasnya 729 meter persegi.

Di Argotuwuh tersedia tempat bagi 156 badan. ''Sama seperti di Argokembang, di Argotuwuh menurut rencana yang dimakamkan adalah para pengurus Yayasan Mangadeg ataupun keluarga besar Mangkunegaran lainnya yang mengajukan permohonan.''

Di samping bangunan untuk pemakaman, terdapat pula sembilan bangunan pendukung lainnya.

Di antaranya adalah masjid, rumah tempat peristirahatan bagi keluarga Soeharto jika berziarah, kamar mandi bagi peziarah utama, tandon air, gapura utama, dua tempat tunggu atau tempat istirahat bagi para wisatawan, rumah jaga dan tempat parkir khusus bagi mobil keluarga. Di bagian bawah, terdapat ruang parkir yang sangat luas.

Pintu utama Astana Giribangun berada di sisi utara. Sementara sisi selatan berbatasan langsung dengan jurang yang di bawahnya mengalir Kali Samin.

Sungai yang berhulu dari Tawangmangu itu berkelok-kelok dan indah dipandang dari kompleks makam.

''Kompleks Astana Mangadeg dan Astana Giribangun tidak hanya untuk wisata ziarah, tapi juga untuk wisata alam,'' kata Kepala Dinas Pariwisata Karanganyar, IA Joko Suyanto.
Read More......

Pantai Sundak


Wisata alam, khususnya wisata pantai di Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, banyak sekali jumlahnya. Selain pantai-pantai yang sudah tenar, seperti Baron, Kukup, Krakal, Gesing, Ngobaran, Sepanjang, Wediombo, Drini, Ngandong dan Ngrenehan, terdapat sebuah pantai lain dengan panorama yang tak kalah indahnya. Pantai itu adalah Pantai Sundak yang terletak di Desa Sidoharjo, Kecamatan Tepus. Untuk mencapai pantai ini relatif mudah karena jalannya telah beraspal dan disertai dengan rambu-rambu petunjuk, sehingga memudahkan para wisatawan yang hendak berkunjung.

Pantai Sundak dahulu bernama Pantai Wedibedah, yang diambil dari kata wedi yang berarti pasir dan mbedah yang berarti membelah. Penamaan ini disebabkan karena pada saat musim hujan tiba banyak air dari daratan yang mengalir menuju pantai. Akibatnya, daratan di sebelah timur pantai membelah (mbedah) hingga membentuk seperti sungai. Namun, apabila musim kemarau tiba, belahan itu menghilang karena digerus oleh air laut. Fenomena alam inilah yang menyebabkan pantai ini disebut Wedibedah.

Pada sekitar tahun 1976 nama pantai ini berubah, karena ada suatu kejadian menarik di sekitar pantai. Waktu itu ada seekor anjing yang sedang berlari memasuki sebuah gua karang untuk mengejar seekor landak laut. Mungkin karena lapar si anjing bermaksud memakan si landak hingga akhirnya terjadi perkelahian. Dalam perkelahian tersebut ternyata si anjing berhasil menang dan membawa pulang sebagian tubuh landak laut itu. Saat sang anjing pulang dalam keadaan tubuh yang penuh lumpur sambil membawa sebagian tubuh landak, pemiliknya menjadi penasaran sebab di tempat itu semuanya berpasir putih dan tidak ada lumpurnya.

Karena penasaran, si pemilik yang bernama Mbah Arjasangku pun kemudian berjalan menyusuri arah yang tadi dilewati oleh anjingnya, hingga tiba di sebuah gua tempat si anjing berkelahi. Di gua tersebut, Mbah Arjasangku tidak hanya menemukan lumpur dan sisa tubuh landak laut yang tidak dibawa oleh anjingnya, tetapi juga sebuah sumber mata air. Singkat cerita, mata air itu kemudian dijadikan sebagai sumber air tawar yang dimanfaatkan untuk keperluan hidup penduduk di sekitar pantai. Dan, karena perkelahian antara anjing dan landak itu telah membawa berkah bagi penduduk setempat, maka Pantai Wedibedah diubah namanya menjadi Sundak yang merupakan akronim dari kata asu (anjing) dan landak.

Lepas dari masalah penamaan itu, yang jelas Pantai Sundak dapat dijadikan sebagai obyek wisata alternatif yang tidak kalah indahnya dibanding dengan pantai-pantai lain yang ada di wilayah Kabupaten Gunung Kidul. Di pantai yang berpasir putih ini pengunjung dapat menyaksikan terumbu-terumbu karang yang indah sambil menikmati hembusan angin laut yang menyegarkan. Selain itu, pengunjung juga dapat menikmati makanan laut dengan harga terjangkau yang banyak disediakan oleh warung-warung yang ada di sekitar pantai. Dan, sama seperti tempat-tempat rekreasi lainnya di Indonesia, Pantai Sundak dilengkapi pula dengan fasilitas khas tempat rekreasi, seperti kamar mandi untuk bilas, rumah ibadah (masjid), panggung hiburan, gardu pandang, areal perkemahan, hingga areal parkir kendaraan bermotor yang cukup luas. (gufron)
Read More......

Pantai Nampu


Pantai Nampu sangat elok dan alami dengan hamparan pasir putih dan pantai yang sangat panjang cocok untuk rekreasi keluarga dengan minuman kas air kelapa muda. Jarak dari Kecamatan Paranggupito kurang lebih 15 km.

disamping itu ditepi pantai juga ada sumber mata air, sehingga apabila sehabis bermain di pantai bisa langsung mandi dengan air tawar yang ada di dekat pantai tersebut.
Read More......